Pasar keuangan domestik tengah menghadapi tekanan besar seiring kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 35,3 persen ke level 5.594,76 sejak awal tahun 2026. Penurunan ini disertai pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS, berdasarkan data yang dilansir dari Investasi pada Jumat (5/6/2026).
Situasi penuh tantangan tersebut mengharuskan para investor untuk meninjau kembali komposisi portofolio aset mereka. Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan memaparkan bahwa strategi investasi saat ini harus tetap bertumpu pada tujuan keuangan, profil risiko, dan kedisiplinan alokasi aset.
Langkah investasi bertahap atau dollar cost averaging dapat diterapkan oleh investor agresif pada instrumen reksa dana saham atau campuran guna memanfaatkan momentum pemulihan pasar jangka panjang.
"Fokus utama tetap pada diversifikasi dan kualitas aset yang menjadi underlying portofolio," kata Reza kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).
Bagi pelaku pasar dengan profil risiko moderat, penempatan dana secara seimbang antara reksa dana pendapatan tetap dan saham dapat meminimalkan volatilitas. Sementara itu, kelompok investor konservatif disarankan memilih stabilitas melalui reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap berdurasi pendek.
"Secara umum, kondisi pasar saat ini lebih menuntut disiplin investasi dan diversifikasi dibandingkan upaya melakukan market timing," ujar Reza.
Pilihan instrumen reksa dana pasar uang dinilai menarik untuk menjaga likuiditas yang tinggi dengan risiko volatilitas yang minim. Di sisi lain, instrumen reksa dana pendapatan tetap menjadi opsi pencarian imbal hasil yang lebih tinggi bagi investor menengah dengan risiko yang tetap terukur.
Berdasarkan proyeksi indikatif hingga akhir tahun, potensi return untuk reksa dana pasar uang berkisar 2 persen sampai 4 persen, reksa dana pendapatan tetap sekitar 4 persen sampai 7 persen, sedangkan hasil reksa dana saham akan sangat bergantung pada arus modal asing dan makroekonomi.
Faktor eksternal global yang perlu diperhatikan investor mencakup kebijakan suku bunga Federal Reserve, pergerakan dolar AS, inflasi, serta geopolitik. Sedangkan dari sisi domestik, stabilitas rupiah dan kebijakan Bank Indonesia menjadi penentu utama kinerja pasar obligasi dan saham ke depan.
"Di tengah berbagai ketidakpastian, investor perlu menghindari keputusan yang bersifat emosional dan tetap berpegang pada strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko serta tujuan keuangan jangka panjang," kata Reza.