Pasar obligasi global mengalami tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perang di Iran, seperti dikutip dari Internasional.
Kenaikan inflasi memicu ekspektasi bahwa bank sentral di berbagai negara akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Lembaga keuangan tersebut bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan mereka.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun tercatat menyentuh level tertinggi dalam sekitar satu tahun terakhir pada akhir pekan. Lonjakan ini terjadi hanya dua hari setelah lelang obligasi tenor 30 tahun AS menghasilkan yield tertinggi sejak 2007.
Perkembangan tersebut menandakan meningkatnya biaya pendanaan pemerintah di tengah tekanan pasar. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve AS akan terpaksa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama untuk meredam inflasi yang kembali naik akibat guncangan harga energi.
"With sticky inflation, higher interest rates will stay longer," ujar Seth Hickle, portofolio manajer di Mindset Wealth Management.
Seth Hickle menilai kondisi ini akan berdampak luas, mulai dari kredit rumah, pinjaman korporasi, hingga daya beli masyarakat.
Harga minyak Brent sendiri naik sekitar 4% hingga menembus di atas US$ 109 per barel, sehingga memperkuat tekanan inflasi global. Di sisi lain, investor juga menyoroti pelemahan pasar saham yang mulai kehilangan momentum setelah reli panjang yang didorong euforia kecerdasan buatan.
Indeks saham utama global turun sekitar 1% hingga 2% sehari setelah S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi.
"The market has run too far and hasn't paid enough attention to the signals from bonds and economic data," kata Kenny Polcari, analis pasar di Slatestone Wealth Management.
Kenaikan imbal hasil juga tercermin dari lonjakan real yield atau imbal hasil riil yang telah disesuaikan dengan inflasi. Yield obligasi AS berbasis Treasury Inflation-Protected Securities tenor 10 tahun naik ke 2,083% yang merupakan level tertinggi sejak akhir Maret.
Menurut analis, kenaikan ini memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bank sentral tersebut bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan di akhir tahun atau awal 2027.
"When real yields rise, it signals that the economy is not yet in a phase that allows for interest rate cuts," kata Padhraic Garvey, kepala strategi suku bunga global di ING.
Tekanan di pasar obligasi tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi Inggris atau gilt melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan tekanan terhadap pemerintah Perdana Menteri Keir Starmer.
Di kawasan Eropa, yield obligasi juga naik tajam dengan obligasi Jerman dan Italia yang mencatat kenaikan signifikan. Sementara itu, Jepang mencatat kenaikan imbal hasil ke level tertinggi baru setelah data inflasi grosir yang lebih panas dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.
"Political instability in the UK makes the market question fiscal sustainability," ujar Eric Winograd dari AllianceBernstein.
Eric Winograd menambahkan bahwa kekhawatiran ini bisa merembet ke negara lain jika tekanan inflasi terus berlanjut.
Di tengah gejolak ini, investor kembali membicarakan peran bond vigilantes. Istilah ini merujuk bagi pelaku pasar obligasi yang menekan pemerintah melalui kenaikan yield agar lebih disiplin dalam kebijakan fiskal.
Meski belum sekuat era sebelumnya, fenomena ini mulai terlihat kembali, terutama di pasar Inggris dan Jepang. Investor menilai kombinasi inflasi tinggi, harga energi yang volatile, serta tekanan fiskal dapat memicu gelombang kenaikan yield lebih luas secara global.
"Global yields are already high enough to start denting market sentiment," kata Eugene Leow, analis suku bunga senior di DBS.
Pasar obligasi kini bersiap menghadapi ujian baru berupa lelang obligasi tenor 20 tahun AS pekan depan. Langkah ini diambil setelah sebelumnya sejumlah lelang menunjukkan permintaan yang lebih lemah dari perkiraan.
Dengan inflasi yang belum stabil dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pasar obligasi global diperkirakan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat. Risiko suku bunga tinggi juga diproyeksikan bertahan lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.