Paus Sperma Sepanjang 17 Meter Mati Terdampar di Pantai Nusasari Bali

Paus Sperma Sepanjang 17 Meter Mati Terdampar di Pantai Nusasari Bali

Seekor paus sperma berukuran raksasa ditemukan mati setelah sempat terdampar di pesisir Pantai Desa Nusasari, Kabupaten Jembrana, Bali, sejak Selasa (5/5). Mamalia laut berjenis kelamin betina tersebut diketahui memiliki panjang mencapai 17 meter menurut laporan tim relawan di lokasi.

Peristiwa ini bermula ketika warga sekitar melihat objek besar yang bergerak di perairan dangkal sekitar 100 meter dari bibir pantai pada pukul 15.30 Wita. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Travel, paus tersebut masih dalam kondisi hidup saat pertama kali terpantau oleh masyarakat.

Kapolsek Melaya Kompol I Ketut Sukadana memberikan konfirmasi terkait laporan awal dari warga yang berada di tempat kejadian perkara.

"Paus tersebut ditemukan pertama kali oleh warga yang melihat ada ikan besar mengibas-ngibaskan ekornya di pinggir laut," ungkap Kapolsek Melaya Kompol I Ketut Sukadana saat dikonfirmasi.

Kondisi air laut yang surut dengan cepat menyebabkan posisi kepala paus menghadap ke laut namun seluruh tubuhnya kandas di daratan. Akibat hilangnya daya apung air secara drastis, hewan tersebut akhirnya dinyatakan mati pada pukul 16.00 Wita.

Tim medis dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI) kemudian turun tangan untuk melakukan prosedur pemeriksaan pascakematian atau nekropsi. Relawan JSI, drh. Abdullatif Muhammad, menyebutkan bahwa tim harus menunggu kondisi alam yang tepat untuk memulai pembedahan bangkai.

"Yang dinekropsi itu paus sperma jenis kelamin betina dengan panjang 17 meter. Karena kemarin terkendala air pasang, baru siang tadi bisa dilakukan dan sampai sore ini belum selesai," ungkap Abdullatif saat ditemui di lokasi, Rabu (6/5).

Abdullatif memaparkan sejumlah analisis medis awal terkait fenomena kematian mamalia laut yang terdampar di perairan dangkal. Ia menjelaskan bahwa tanpa topangan air, organ dalam paus dapat mengalami kerusakan akibat beban berat tubuhnya sendiri.

"Saat terdampar di perairan dangkal, dapat terjadi crush syndrome, yakni organ dalam paus tertarik gravitasi karena tidak ada lagi daya apung dari air," jelas Abdullatif.

Faktor lain yang diduga menjadi penyebab adalah gangguan pada saluran pernapasan saat tubuh paus terombang-ambing di pasir pantai yang dangkal. Hal ini memungkinkan air masuk ke dalam lubang hidung yang terletak di bagian atas tubuh.

"Dugaan kedua, paus bernapas dengan blow hole (lubang hidung) di bagian atas. Saat terdampar dan badan terombang-ambing, lubang pernapasan itu bisa kemasukan air, sehingga paus tersebut mengalami kondisi seperti tenggelam," papar Abdullatif.

Tim medis telah mengumpulkan lebih dari 20 sampel fisik, termasuk bagian kulit dan organ dalam, untuk keperluan uji laboratorium dan tes DNA guna memastikan penyebab spesifik kematian satwa tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi