Peluit Terakhir di Pinggir Jalan: Kisah Penyintas Mainan Tradisional

Peluit Terakhir di Pinggir Jalan: Kisah Penyintas Mainan Tradisional

Siang itu, kawasan Stasiun Depok Baru tampak seperti biasanya, arus pejalan kaki datang dan pergi, sebagian tergesa mengejar kereta, sebagian lagi berhenti sebentar di kios-kios kecil yang menempel di sisi jalan. Di antara suara klakson dan langkah terburu-buru, ada satu pemandangan yang tetap bertahan dari tahun ke tahun, gerobak mainan yang dipenuhi warna-warni bola plastik, pistol mainan, hingga pernak-pernik anak. Di bawah payung besar berwarna kuning, puluhan mainan tergantung rapat seperti dinding pajangan bergerak. Barang-barang itu tampak sederhana, tetapi keberadaannya seolah menjadi penanda bahwa ruang kota belum sepenuhnya menyerah pada layar ponsel dan belanja daring.

Di balik lapak itu berdiri seorang pria paruh baya, tubuhnya sedikit membungkuk karena lelah, tetapi wajahnya menyimpan ketenangan yang sudah ditempa waktu. Namanya Ferry (54). Ia bukan pedagang musiman, bukan pula pedagang yang baru merintis. Ia sudah menekuni pekerjaan ini sejak 26 tahun lalu.

"Sudah lama, saya sudah jualan 26 tahun," kata Ferry saat ditemui Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Ferry menatap mainan yang bergoyang pelan terkena angin. Dari situ, ia seperti melihat kembali perjalanan panjangnya sebagai pedagang kecil yang bertahan dengan kaki, tenaga, dan kesabaran. Ferry memulai semuanya dari angka yang kecil, tetapi cukup untuk menjadi pintu masuk menuju kehidupan yang lebih panjang. Ia mengingat jelas modal pertamanya saat mulai berjualan mainan keliling. Waktu itu ia hanya membawa beberapa jenis barang sederhana, sebagian besar mainan murah yang mudah dibeli anak-anak. Kini, jumlah modalnya sudah jauh berbeda. Barang dagangan semakin beragam, dan tuntutan pasar juga berubah. Ia tidak lagi bisa hanya mengandalkan mainan tradisional seperti masa lalu, karena anak-anak sekarang punya selera yang berbeda.

"Dulu modalnya Rp 200.000. Sekarang bisa Rp 2 juta," ujar Ferry.

Selama puluhan tahun, Ferry tidak pernah benar-benar keluar dari Depok. Ia mengitari kota yang sama, menempuh jalur yang itu-itu saja, dan mengenali ritme kawasan dari pagi sampai malam. Ia menyebut dirinya sebagai pedagang keliling, tetapi belakangan ia lebih sering menetap di titik ramai.

"Depok saja. Keliling Kota Depok," kata Ferry.

Jika dulu ia biasa masuk ke gang-gang sempit, sekarang tubuhnya tidak lagi sanggup. Faktor usia membuat jarak tempuh yang dulu terasa biasa, kini menjadi beban yang berat. Ia mengaku sudah jarang bergerak terlalu jauh.

"Enggak kuat. Kondisinya sudah lemah. Tenaganya udah enggak ada," kata Ferry pelan.

Ferry memulai hari lebih cepat dari kebanyakan orang. Pagi-pagi sekali ia sudah keluar rumah, membawa gerobak mainannya, lalu bertahan hingga malam. Ia tidak punya jam kerja pasti selain ketekunan untuk tetap berada di jalan selama mungkin.

"Berangkat jam 6 pagi. Pulang jam 8 malam," ujar Ferry.

Di antara jam-jam panjang itu, ia mengandalkan pembeli yang datang secara spontan, anak kecil yang menangis minta balon, orang tua yang ingin menenangkan anaknya, hingga remaja yang membeli gantungan tas atau aksesori lucu. Ferry menjual mainan yang menyesuaikan tren. Slime, pistol gelembung, hingga berbagai mainan baru yang berkilau dan berwarna cerah kini memenuhi lapaknya. Ia tahu mainan semacam itu lebih mudah menarik perhatian anak-anak yang cepat bosan.

"Macam-macam. Ada mainan anak-anak. Ada yang baru. Ada slime juga," kata Ferry.

Meski banyak yang menganggap pedagang mainan keliling hanya hidup dari uang kecil, Ferry menyebut pekerjaannya telah membantunya membangun sesuatu yang lebih besar. Dari dagangannya, ia bisa bertahan, menghidupi keluarga, bahkan membangun rumah. Namun, pendapatan sehari-hari tidak selalu stabil. Ia menyebut rata-rata penghasilan yang ia bawa pulang sekitar Rp 100.000, tergantung ramai atau sepinya pembeli. Bagi Ferry, angka itu cukup untuk bertahan, meski jauh dari kata nyaman. Ia juga punya pelanggan tetap, meski jumlahnya tidak banyak. Kadang hanya satu atau dua orang yang datang khusus mencarinya.

"Pelanggan tetap ada aja. Ya satu-dua orang," kata Ferry.

Ada juga pembeli yang datang bukan karena kebutuhan, melainkan karena kenangan. Orang dewasa yang pernah merasakan masa kecil dengan pedagang mainan keliling, kini membeli untuk anaknya, atau sekadar mengingatkan diri bahwa hidup pernah sesederhana memilih mainan di pinggir jalan.

"Ada juga karena masa kecilnya mainan," ujar Ferry.

Siasat di Balik Gelembung Sabun dan Peluit

Di beberapa titik lain di Depok, pedagang mainan keliling lain masih bisa ditemukan, meski harus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Di Margonda Raya, Depok, seorang pedagang bernama Sunandar (43) memilih berjualan di area kos-kosan dan trotoar dekat kampus. Ia sudah 12 tahun menekuni dagangannya, menjual pistol gelembung, balon karakter, hingga kipas LED. Sunandar menyadari perubahan perilaku anak-anak. Dulu, ia cukup lewat di depan rumah dan anak-anak langsung berlari menghampiri. Kini, ia harus menawarkan pengalaman lewat mainan yang menyala atau menghasilkan gelembung sabun agar anak-anak melirik.

"Sekarang anak-anak banyak yang cuek karena fokus HP, tapi kalau sudah lihat gelembung keluar, baru mereka tertarik," kata Sunandar saat ditemui di trotoar Margonda.

Ia juga merasakan kenaikan harga yang membuat daya beli berubah. Mainan murah yang dulu bisa dibeli Rp 2.000 kini sudah jarang ditemukan. Anak-anak masih ingin mainan, tetapi uang jajan mereka tak selalu cukup untuk memenuhi semuanya. Sementara itu di Pancoran Mas, pedagang mainan bernama Edi (38), memilih lokasi dekat sekolah dasar dan permukiman padat. Ia melihat kawasan itu masih memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain di luar rumah, sesuatu yang makin jarang ditemui di titik kota lain.

"Kalau sore habis ngaji, anak-anak masih banyak main di luar, jadi dagangan saya hidup," ujar Edi saat ditemui.

Namun, ia juga menghadapi tantangan yang makin sering muncul, perbandingan harga dengan marketplace. Orang tua semakin kritis, bahkan sebelum membeli mainan kecil.

"Orang tua suka bilang online lebih murah, tapi anak kecil maunya langsung pegang dan langsung main," kata Edi.

Pedagang lain, Roni Wijaya (51), yang sudah 18 tahun berjualan di jalur sekitar Pancoran Mas, memilih strategi berbeda, ia tetap berkeliling, tetapi hanya di jalur yang sudah ia hafal. Ia juga masih mempertahankan ciri khas lama yang kini justru menjadi daya tarik, peluit.

"Kalau saya tiup peluit, anak-anak nengok. Kadang orang dewasa juga malah senyum sendiri," ujar Roni.

Roni percaya bahwa mainan fisik belum sepenuhnya kalah oleh permainan digital. Anak-anak mungkin lebih sering bermain game, tetapi rasa penasaran terhadap benda yang bisa bergerak, berbunyi, atau menyala tetap ada. Pedagang-pedagang ini tidak hanya bertahan karena kebutuhan ekonomi, tetapi juga karena keterbatasan pilihan. Banyak dari mereka mengaku sulit memulai pekerjaan baru di usia yang tidak lagi muda.

Nilai Emosional bagi Sang Pembeli

Di sekitar Stasiun Depok Baru, seorang ibu bernama Wulan Sari (36) berhenti di dekat gerobak mainan. Ia baru saja membeli pistol gelembung dan jepit rambut kecil. Menurut dia, membeli mainan dari pedagang keliling sering terjadi spontan.

"Kalau begini cukup Rp 10.000–Rp 20.000 udah bikin anak senang," kata Wulan saat ditemui.

Wulan menyebut keputusan membeli mainan di jalan terasa lebih sederhana dibandingkan belanja di toko. Ia tidak perlu masuk ke pusat perbelanjaan atau memilih terlalu banyak. Anak memilih, orang tua membayar, lalu selesai. Namun, Wulan mengaku pedagang mainan keliling punya nilai emosional tersendiri. Baginya, suara peluit dan pemandangan gerobak mainan mengingatkan pada masa kecil.

"Dulu saya kecil kalau dengar suara peluit langsung nyamperin, sekarang kejadian lagi, tapi versinya anak saya," ujar Wulan.

Wulan menilai keberadaan pedagang mainan keliling masih penting karena memberi pengalaman berbeda bagi anak-anak. Ia ingin anaknya sesekali bermain mainan fisik agar tidak terus menatap layar ponsel. Sementara itu, siswi SD bernama Aulia Rahmawati (10) membeli ikat rambut dan jepit kecil seharga Rp 5.000. Ia mengatakan, barang yang dijual di pinggir jalan lebih menarik karena bisa dipilih langsung.

"Aku beli ikat rambut karena lucu-lucu dan murah, kalau di toko kadang mahal," kata Aulia.

Aulia mengaku masih menyukai mainan seperti slime atau gelembung sabun. Menurut dia, mainan semacam itu lebih seru karena bisa dimainkan bersama teman. Berbeda dengan Aulia, siswi SMP bernama Keysha Amanda (14) membeli gantungan tas karakter seharga Rp 10.000. Ia menyebut gantungan tas kini menjadi tren di kalangan anak sekolah.

"Aku beli gantungan tas karena lagi tren, biar tas sekolah enggak polos," kata Keysha.

Keysha mengaku lebih suka membeli langsung dibandingkan online karena bisa mengecek barang. Ia juga mengatakan, beberapa barang lucu seperti keychain atau boneka mini masih dianggap mainan, meski bukan mainan anak kecil lagi.

Analisis Ekonomi dan Psikologi di Balik Ketahanan

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, mengatakan, pedagang mainan keliling merupakan bagian penting dari ekosistem ekonomi informal perkotaan. Mereka berada di luar sistem formal, tetapi tetap menjadi penggerak distribusi mikro yang menjangkau wilayah yang tidak tersentuh peritel modern.

"Mereka adalah last-mile retailer, yakni pengecer terujung yang menjangkau anak-anak di gang sempit, depan sekolah, atau kawasan perumahan padat," kata Adrian saat dihubungi.

Menurut Adrian, sektor informal masih menjadi bantalan utama di Indonesia. Ia mengutip data BPS per Agustus 2025 yang menunjukkan pekerja sektor informal mencapai 57,80 persen dari total penduduk bekerja. Angka itu mencerminkan bahwa banyak orang masih menggantungkan hidup pada pekerjaan yang rentan, tetapi fleksibel. Namun, Adrian menegaskan ruang bertahan pedagang mainan keliling semakin sempit. Persaingan tidak hanya datang dari toko modern, tetapi juga e-commerce yang tumbuh pesat. Ia menyebut transaksi e-commerce Indonesia naik dari Rp 205,5 triliun pada 2019 menjadi sekitar Rp 487 triliun pada 2024. Kenaikan ini membuat tekanan terhadap pedagang kecil semakin besar, terutama untuk barang yang mudah dibandingkan harga. Meski begitu, ia menilai pedagang mainan keliling belum akan hilang sepenuhnya. Ada ceruk pasar yang masih bisa mereka isi, terutama barang murah yang tidak efisien dijual secara daring karena ongkos kirim lebih mahal dibanding harga barang. Selain itu, mainan yang harus didemonstrasikan langsung, seperti pistol gelembung atau kipas LED, masih punya keunggulan karena anak-anak bisa melihat efeknya saat itu juga.

"Kalau pedagang mainan keliling masih banyak terlihat, itu bukan berarti bisnisnya saja yang sedang bagus, melainkan juga menunjukkan bahwa alternatif pekerjaan yang lebih aman dan produktif masih terbatas," ujar Adrian.

Ia menilai jika pemerintah ingin melindungi pedagang kecil, kebijakan yang paling realistis adalah pengakuan legal yang ringan dan perlindungan sosial dasar seperti BPJS Ketenagakerjaan. Sisi lain diungkapkan oleh Psikolog Klinis Senior Ratih Ibrahim yang menilai pengalaman melihat atau mendengar pedagang mainan keliling bukan sekadar urusan ekonomi. Ada dimensi psikologis yang membuat fenomena ini tetap hidup di tengah perubahan zaman. Menurut Ratih, suara peluit pedagang mainan dapat memicu respons emosional mendadak pada orang dewasa karena otak menyimpan memori masa kecil dalam bentuk “emotional memory”.

"Suara peluit pedagang mainan bisa menjadi salah satu trigger yang langsung mengaktifkan ingatan lama," kata Ratih saat dihubungi.

Ratih menjelaskan stimulus sensorik seperti suara, aroma, atau warna memiliki jalur cepat menuju bagian otak yang mengatur emosi, seperti amygdala dan hippocampus. Akibatnya, seseorang bisa merasakan emosi nostalgia bahkan sebelum sadar mengingat peristiwanya. Ratih menyebut fenomena ini sebagai nostalgia sensorik. Ia menilai setiap generasi memiliki nostalgia, hanya saja pemicunya berbeda. Generasi 1990-an atau 2000-an lebih banyak tumbuh dengan pengalaman fisik dari lingkungan sekitar, sedangkan generasi sekarang lebih banyak menerima stimulus digital.

"Nostalgia bukan berkurang, tetapi bahasanya yang berubah mengikuti perkembangan zaman," ujar Ratih.

Ratih menambahkan nostalgia dapat memengaruhi perilaku konsumsi. Dalam banyak kasus, orang dewasa membeli mainan bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk menghadirkan kembali perasaan hangat dari masa kecil. Ia menyebutnya sebagai nostalgia-driven consumption, ketika keputusan membeli dipengaruhi emosi dan kenangan, bukan semata kebutuhan rasional.

Ruang Hidup yang Terpinggirkan

Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Nia Elvina menilai masih eksisnya pedagang mainan keliling di wilayah perkotaan, termasuk Depok, tidak bisa dilepaskan dari persoalan klasik yang belum selesai, minimnya ruang usaha yang layak bagi pedagang kecil. Menurut Nia, keberadaan pedagang keliling seperti Ferry bukan semata-mata karena faktor kebiasaan atau budaya lama, melainkan lebih karena keterpaksaan ekonomi. Banyak pedagang kecil tidak memiliki pilihan tempat berdagang yang memadai, sehingga trotoar, pinggir stasiun, dan jalur keramaian menjadi alternatif paling realistis.

"Saya kira masih eksisnya pedagang keliling ini berkaitan erat dengan belum terakomodirnya tempat berjualan yang layak bagi pedagang kecil," kata Nia saat dihubungi.

Ia menilai pemerintah seharusnya tidak hanya melihat pedagang keliling sebagai persoalan ketertiban kota, melainkan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi rakyat yang membutuhkan ruang hidup. Keberadaan mereka, kata Nia, muncul karena ruang formal terlalu sempit untuk menampung pedagang kecil. Karena itu, Nia mendorong pemerintah menyediakan lokasi-lokasi yang bisa mengakomodasi pedagang kecil agar mereka tetap bisa mencari nafkah tanpa harus selalu berhadapan dengan risiko penertiban.

"Saya kira pemerintah perlu menyediakan tempat-tempat untuk mengakomodir mereka ini," ujar Nia.

Selain persoalan ruang, Nia juga menekankan pentingnya akses permodalan. Menurutnya, pedagang kecil sering kali terjebak pada siklus modal terbatas yang membuat mereka sulit berkembang dan hanya bertahan dari penghasilan harian.

"Di samping perlu dibukanya juga akses permodalan bagi mereka," kata Nia.

Artikel terkait

Rekomendasi