Pedagang Pasar Baru Bekasi Keluhkan Penurunan Omzet Akibat Kenaikan Harga

Pedagang Pasar Baru Bekasi Keluhkan Penurunan Omzet Akibat Kenaikan Harga

Sejumlah pedagang di Pasar Baru Bekasi, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, mengeluhkan penurunan omzet yang drastis akibat lonjakan harga bahan pokok dan berkurangnya pengunjung pada Jumat (22/5/2026). Situasi ini memicu desakan agar pemerintah segera menstabilkan harga demi menjaga keberlangsungan pasar tradisional, seperti dilansir dari Megapolitan.

Kenaikan harga pangan yang terjadi sejak dua bulan terakhir membuat daya beli masyarakat melemah. Kondisi tersebut diperparah oleh peralihan pola belanja daring dan banyaknya pedagang tidak resmi di luar area pasar utama.

Hasanudin (45), seorang pedagang di Pasar Baru Bekasi, menyatakan bahwa melonjaknya harga komoditas sangat memberatkan para pelaku usaha kecil di pasar.

"Semoga pemerintah bisa perhatikan rakyat kecil. Harga-harga bisa turun kayak dulu lagi," kata Hasanudin, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Ia menguraikan bahwa harga cabai rawit merah saat ini menembus Rp 85.000 per kilogram, sedangkan cabai keriting berada di angka Rp 50.000 per kilogram. Dampaknya, pendapatan harian para pedagang merosot tajam dan risiko barang dagangan rusak menjadi lebih tinggi.

"Biasanya omzet sehari bisa Rp 3 juta, sekarang hilang setengahnya. Barang-barang juga kalau enggak habis jadi layu," ujar Hasanudin, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Menurut dia, penurunan jumlah pengunjung pasar tradisional ini juga dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang kini lebih memilih metode belanja instan.

"Sekarang orang lebih banyak belanja online. Maunya instan, jadi yang datang ke pasar berkurang jauh," ujar Hasanudin, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Tingginya harga komoditas sayuran saat ini dinilai membuat suasana pasar menjadi jauh lebih lengang. Hasanudin bahkan membandingkan kondisi sepi sekarang yang terasa lebih parah daripada masa krisis kesehatan beberapa tahun lalu.

"Kalau dibanding zaman Covid-19, justru dulu masih banyak yang belanja. Sekarang lebih sepi. Sering enggak balik modal kalau jualan," kata Hasanudin, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Ia menambahkan bahwa tren kenaikan harga ini tidak hanya terjadi pada satu komoditas saja, melainkan menyebar ke hampir seluruh jenis sayur-mayur di pasar.

"Yang naik itu cabai, tomat, kentang, sama jenis sayuran lainnya. Hampir semua mengalami kenaikan," kata Hasanudin, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Pedagang sayur lain, Afrida (55), turut menyoroti sepinya aktivitas transaksi di dalam pasar utama. Ia mengeluhkan berkurangnya jumlah pembeli yang datang langsung sejak pagi hari akibat kalah bersaing dengan platform belanja digital.

"Sekarang daya beli masyarakat lemah, berkurang. Pasar enggak ada orang, masih pagi saja sudah sepi. Kalah sama online lah. Sekarang orang seperlunya saja ke pasar," ujar Afrida, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Selain faktor digitalisasi, Afrida mengungkapkan adanya kendala internal pasar berupa menjamurnya pedagang yang menggelar lapak di luar zonasi resmi, sehingga memutus akses pembeli ke bagian dalam.

"Belum lagi sekarang banyak yang jualan di luar pasar. Jadi jarang yang masuk ke dalam," ujarnya Afrida, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Ia memaparkan data harga bahwa komoditas bawang merah dan jenis cabai mengalami lonjakan signifikan. Harga cabai merah naik dari Rp 35.000 menjadi Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kilogram, sementara cabai rawit menyentuh Rp 85.000 per kilogram.

"Cabai sekarang lagi mahal, naik harganya. Cabai merah yang tadinya Rp 35.000 sekarang jadi Rp 50.000 sampai Rp 60.000, bawang merah juga sama. Apalagi cabai rawit sudah Rp 85.000. Enggak ada yang murah sekarang," kata Afrida, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Lonjakan harga tersebut memaksa konsumen, termasuk para pelanggan setia yang biasanya membeli grosir, untuk memangkas anggaran belanja mereka secara drastis.

"Yang dulunya belanja Rp 300.000 sekarang Rp 100.000. Pembelinya berkurang jauh bedanya. Sekarang mah harus sabar," jelas Afrida, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Ia mengaku tetap bertahan membuka lapaknya berkat adanya jaringan pelanggan tetap, meskipun rekan sesama pedagang lain sudah mulai bertumbangan karena kesulitan modal.

"Kalau enggak punya pelanggan mah, waduh sudah pada tutup pedagang. Zaman sekarang cari duit susah," ucap Afrida, pedagang Pasar Baru Bekasi.

Menanggapi situasi tersebut, Pengawas Pasar Baru Bekasi Syaiful Ridwan memberikan keterangan bahwa pasokan barang sejauh ini tidak mengalami hambatan. Berdasarkan data pemantauan sepekan terakhir, stok pangan di pasar dinyatakan aman dan harga secara umum diklaim masih stabil.

"Saat ini cabai rawit merah masih menjadi komoditas dengan harga tertinggi, sekitar Rp 85.000 per kilogram," jelas Syaiful, Pengawas Pasar Baru Bekasi.

Syaiful merinci harga komoditas lain berdasarkan data pasar, di antaranya cabai merah besar dan cabai merah keriting seharga Rp 50.000 per kilogram, bawang merah Rp 45.000 per kilogram, bawang putih biasa Rp 30.000 per kilogram, serta bawang putih cutting Rp 34.000 per kilogram.

"Saat ini distribusi bahan pangan ke Pasar Baru Bekasi masih berjalan normal, jadi bahan-bahan tetap tersedia di pasaran," ujar Syaiful, Pengawas Pasar Baru Bekasi.

Artikel terkait

Rekomendasi