Pekerja Ibu Kota Pilih Warkop Sebagai Ruang Aman di Tanggal Tua

Pekerja Ibu Kota Pilih Warkop Sebagai Ruang Aman di Tanggal Tua

Sejumlah warung kopi kaki lima di kawasan Jakarta Pusat mengalami lonjakan pengunjung yang signifikan pada Senin (4/5/2026) seiring datangnya masa menjelang akhir bulan atau tanggal tua. Fenomena ini dipicu oleh upaya para pekerja urban dalam menekan pengeluaran konsumsi harian mereka.

Kepadatan bangku pelanggan terlihat di warkop milik Mulyadi (43) di kawasan Kebon Sirih yang berukuran 4x3 meter, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Penjual menuturkan bahwa peningkatan jumlah konsumen mulai terasa jelas karena banyak pekerja beralih dari tempat makan mahal ke warkop.

"Kalau udah tanggal tua, biasanya makin ramai. Orang lebih pilih warkop daripada jajan mahal," kata Mulyadi saat ditemui Kompas.com di warkop miliknya, Senin (4/5/2026).

Pengelola menilai tempat usahanya menjadi alternatif bagi pekerja yang ingin berhemat. Harga yang dipatok untuk seporsi mie instan dan kopi hanya berkisar belasan ribu rupiah, jauh lebih rendah dibanding kafe modern.

"Kalau di kafe sekali duduk bisa habis Rp 50.000. Di sini uang segitu bisa buat dua hari, bisa ngopi, bisa makan," ujar Mulyadi.

Mulyadi menjelaskan bahwa pelanggannya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pegawai kantor dengan tanda pengenal hingga pengemudi ojek online. Mereka biasanya kembali ke warkop setiap hari kerja dan hanya mengunjungi kafe pada akhir pekan.

"Mereka itu bukan enggak pernah ke kafe. Tapi ke kafe paling pas weekend atau pas gajian. Kalau tiap hari, ya mereka baliknya ke sini," kata Mulyadi.

Interaksi sosial antar pelanggan dari berbagai profesi juga menjadi ciri khas di warung tersebut. Tempat ini sering kali berubah fungsi menjadi pusat informasi mengenai kondisi lalu lintas hingga agenda unjuk rasa di sekitar Jakarta Pusat.

"Kadang saya lihat lucu juga. Di sini bisa ada pegawai kantor pakai ID card, sebelahnya tukang parkir, sebelahnya ojol. Tapi ngobrolnya nyambung," kata Mulyadi.

Keramaian serupa terjadi di Warkop Pak Marno yang dikelola oleh H. Sumarno (55) dengan luas area hanya 3x3 meter. Sumarno menegaskan bahwa faktor harga menjadi alasan utama kembalinya pelanggan, terutama bagi mereka yang mengandalkan penghasilan harian.

"Di sini tuh cepat tahu kabar. Ada razia, ada demo, ada macet, semua duluan nyampe ke sini. Jadi kayak pusat informasi kecil," tutur Mulyadi.

Sumarno merinci harga menu di tempatnya meliputi kopi seharga Rp 5.000 dan gorengan seharga Rp 2.000. Ia mencatat banyak pelanggan harus bersikap realistis terhadap pendapatan mereka yang terbatas.

"Kopi di sini Rp 5.000. Teh manis Rp 4.000. Gorengan Rp 2.000. Indomie sekitar Rp 10.000. Kalau di kafe kan bisa puluhan ribu," ujar Sumarno.

Menurut pengamatan pengelola, pola kunjungan pelanggan saat akhir bulan cenderung lebih lama dalam berinteraksi. Meski area terbatas, warkop memberikan fleksibilitas bagi pengunjung untuk bersantai tanpa tekanan omzet tinggi.

"Banyak yang penghasilannya harian. Ojol, satpam, pekerja lepas. Kalau nongkrong di kafe tiap hari ya enggak kuat," kata Sumarno.

Sumarno juga menyuarakan harapannya agar pemerintah mempertimbangkan keberlangsungan pedagang kecil dalam penataan kota. Baginya, warkop memiliki fungsi sosial penting sebagai penyedia ruang istirahat murah bagi masyarakat bawah.

"Mau duduk lama juga enggak masalah. Di sini yang penting pesan, ngobrol, santai," ucap Sumarno.

Kekhawatiran akan hilangnya akses terhadap fasilitas murah menjadi poin utama yang ditekankan oleh pedagang. Ia meminta agar langkah penataan tidak disertai dengan penggusuran tanpa solusi tempat yang jelas.

"Kalau semua jadi kafe estetik, nanti yang cari kopi murah gimana? Yang mau istirahat sebentar gimana? Masa semua harus mahal," ujar Sumarno.

Arief (27), seorang staf administrasi, mengonfirmasi bahwa dirinya lebih rutin mengunjungi warkop saat kondisi keuangan menipis. Menurutnya, warkop jauh lebih praktis untuk memenuhi kebutuhan makan siang harian yang mendesak.

"Kalau ditata saya setuju, tapi jangan digusur. Kasih tempat yang jelas. Karena ini cari makan," ucap Sumarno.

Bagi pekerja seperti Arief, kafe hanya digunakan sebagai tempat pertemuan sosial di waktu senggang. Perbedaan fungsi antara kafe dan warkop terasa sangat nyata ketika memasuki masa kritis keuangan sebelum hari gajian.

"Kalau kafe itu biasanya Sabtu atau Minggu, karena sekalian ketemu teman. Kalau weekday enggak mungkin tiap hari, mahal juga," kata Arief saat ditemui.

Arief menambahkan bahwa efisiensi waktu juga menjadi pertimbangan dalam memilih warkop. Ia merasa tidak perlu melalui proses pemesanan yang rumit untuk mendapatkan sajian sederhana.

"Kalau jam makan siang kan mepet. Di warkop tinggal duduk, pesan kopi sama gorengan atau mie, enggak ribet," ujar Arief.

Nadya (30), seorang petugas layanan pelanggan perbankan, turut merasakan pergeseran preferensi konsumsi tersebut. Ia menilai suasana warkop terkadang jauh lebih hidup dibandingkan lingkungan kafe yang cenderung sunyi.

"Kafe itu buat suasana, buat healing kecil-kecilan. Kalau warkop itu buat kebutuhan sehari-hari," ucap Arief.

Nadya menjelaskan bahwa meskipun ia menyukai kenyamanan kafe, pilihan rasional tetap jatuh pada warung sederhana di hari kerja. Lokasi yang dekat dengan tempat kerja menjadi nilai tambah tersendiri.

"Saya suka kafe karena nyaman dan biasanya tempatnya bagus. Tapi saya paling ke kafe pas weekend aja, enggak tiap hari," ujar Nadya.

Kebutuhan akan ruang istirahat yang fleksibel juga dirasakan oleh Deri (34), seorang teknisi lapangan. Ia menggunakan warkop sebagai tempat menunggu panggilan kerja berikutnya tanpa merasa terbebani oleh biaya tinggi.

"Kalau kafe itu paling pas weekend atau pas lagi senggang. Kalau hari kerja saya lebih sering ke warkop karena praktis," kata Deri.

Deri mengungkapkan bahwa obrolan ringan di warkop terkadang membukakan peluang ekonomi baru melalui pertukaran informasi pekerjaan. Hal ini berbeda dengan suasana kafe yang cenderung individualis.

"Kalau di warkop itu gampang ngobrol sama orang. Kadang bisa dapat info kerjaan juga. Kalau kafe kan orang cenderung sibuk sendiri," kata Deri.

Senada dengan Deri, Hendra (52) yang berprofesi sebagai sopir pribadi memanfaatkan warkop untuk mengisi waktu tunggu. Kesederhanaan warkop dinilai paling pas untuk menunjang aktivitas rutinnya sehari-hari.

"Saya kalau nunggu majikan atau nunggu jemputan ya pasti ke warkop. Udah kebiasaan. Di sini bisa ngopi, bisa ngobrol, enggak kerasa waktunya," ujar Hendra.

Hendra menegaskan bahwa meskipun kafe memiliki fasilitas yang lebih baik, hal tersebut tidak realistis untuk kebutuhannya. Warkop tetap menjadi pilihan utama bagi pekerja dengan mobilitas tinggi seperti dirinya.

"Kalau kafe itu bagus, tapi buat saya enggak mungkin tiap hari. Saya butuh yang sederhana. Warkop ini udah paling pas," kata Hendra.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa warkop memiliki ketahanan ekonomi karena struktur biaya rendah. Warkop dianggap tetap relevan di tengah tekanan daya beli masyarakat.

"Dalam kondisi daya beli tertekan, warkop menjadi pilihan rasional karena menawarkan harga murah, akses mudah, dan fungsi sosial tanpa biaya tambahan," kata Rizal saat dihubungi.

Rizal menambahkan bahwa fenomena ini memperlihatkan segmentasi pasar yang jelas antara warkop dan kafe modern. Konsumsi di kafe saat ini lebih banyak didorong oleh kebutuhan akan identitas sosial dan estetika.

"Warkop menyasar konsumen sensitif harga, sementara kafe menyasar konsumen dengan willingness to pay lebih tinggi," kata Rizal.

Meskipun kafe modern terus menjamur, Rizal memprediksi bahwa keberadaan mereka tidak akan menggantikan peran warkop di perkotaan. Saat ini sedang terjadi dualisme pasar yang menempatkan kafe sebagai gaya hidup dan warkop sebagai kebutuhan pokok.

"Konsumen tidak hanya membeli kopi, tetapi juga identitas sosial, estetika, dan pengalaman," ujar Rizal.

Artikel terkait

Rekomendasi