Pelarian Positif Bintang: Dari Arena Tawuran ke Ring Tinju Pasar Rebo

Pelarian Positif Bintang: Dari Arena Tawuran ke Ring Tinju Pasar Rebo

Suara pukulan samsak kini terdengar hampir setiap sore di bawah kolong flyover, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di bawah bentang beton flyover, ruang yang sebelumnya lekat dengan stigma kekerasan perlahan diisi aktivitas yang lebih positif. Area yang dulu identik dengan tawuran kini berubah menjadi tempat latihan tinju bagi anak-anak muda. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang membangun fasilitas itu sebagai salah satu upaya menekan angka tawuran di wilayah Jakarta Timur yang selama bertahun-tahun kerap menjadi sorotan. Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya tempat olahraga biasa. Namun bagi Bintang, pemuda berusia 22 tahun, ring tinju di Pasar Rebo seperti ruang pelarian dari kehidupan lamanya.

"Saya enggak mau tawuran lagi," ucap Bintang, pelaku tawuran.

Ia bercerita bagaimana dirinya bisa lepas dari kehidupan tawuran yang sudah membelenggunya sejak duduk di bangku SMP. Sebelum mengenal tinju, kesehariannya lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas yang menurutnya negatif. Tawuran hingga nongkrong sampai larut malam menjadi aktivitas rutin yang dilakukan pria asal Depok itu.

"Saya dari SMP sudah dekat sama tawuran. Ya kegiatannya, maaf-maaf ya Kak, lebih banyak negatifnya deh. Mungkin saya enggak bisa sebutin ya. Pokoknya kegiatan negatif banyak dilakukan lah," ujar Bintang, pelaku tawuran.

Kini, rutinitas itu perlahan berubah. Hampir setiap sore, sepulang bekerja dari kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Bintang datang ke arena tinju di Pasar Rebo. Bintang mengaku tidak memiliki latar belakang olahraga. Bahkan hingga usia 22 tahun, ia hampir tidak pernah berminat menekuni aktivitas fisik.

"Banyak Gen Z yang sebenarnya enggak suka olahraga, termasuk saya dulu," ujar Bintang, pelaku tawuran.

Dorongan Perubahan dan Kesadaran Diri

Bintang mengaku perubahan hidupnya bukan terjadi tanpa alasan. Secara perlahan, ia mulai mempertanyakan arah hidupnya. Apalagi, lingkungan pertemanannya juga mulai berubah. Beberapa teman yang dulu akrab dengannya kini mulai serius menekuni olahraga, termasuk tinju.

"Lebih ke kesadaran pribadi aja. Mau sampai kapan sih kayak gini Terus banyak teman juga, contohnya ada Bang Fale yang kemarin habis menang di Bogor. Itu salah satu motivasi saya buat ikut boxing. Ada juga Bang Yunus dan yang lain," kata Bintang, pelaku tawuran.

Selain dorongan dari lingkungan pertemanan yang berprestasi, faktor keluarga juga menjadi alasan kuat di balik keputusannya untuk berhenti dari dunia jalanan. Ia menyadari kecemasan mendalam yang selama ini dirasakan oleh orang tuanya.

"Sama saya tidak mau bikin mama saya nangis terus mikirin anaknya," kata Bintang, pelaku tawuran.

Tiga bulan terakhir menjadi masa yang cukup mengubah dirinya. Tubuh yang dulu mudah lelah kini terasa lebih bugar. Emosi yang dahulu mudah terpancing perlahan mulai terkendali.

"Sekarang kalau di jalan disenggol orang, saya lebih pilih minta maaf terus pergi," kata Bintang, pelaku tawuran.

Menyalurkan Energi Lewat Samsak

Menurut Bintang, tinju memberinya ruang untuk meluapkan emosi dengan cara berbeda. Energi yang dulu tersalurkan lewat tawuran kini ia keluarkan saat latihan memukul samsak atau sparring di atas ring. Perubahan itu tidak datang mudah. Pada minggu pertama latihan, tubuhnya sempat terasa nyeri karena belum terbiasa berolahraga.

"Sakit badan seminggu pertama, sakit-sakit pokoknya badan semua," ujar Bintang, pelaku tawuran.

Namun rasa sakit fisik tersebut tidak membuatnya menyerah atau kembali ke jalanan. Setelah mulai terbiasa dengan ritme latihan yang disiplin, ia justru merasa ada sesuatu yang hilang jika melewatkan sesi olahraganya.

"Sekarang malah lebih sakit kalau enggak latihan," kata Bintang, pelaku tawuran.

Di arena tersebut, Bintang juga menemukan lingkungan baru yang menurutnya lebih positif. Ia termotivasi melihat beberapa seniornya mulai serius menekuni boxing hingga mengikuti pertandingan. Meskipun demikian, ia menilai fasilitas olahraga saja tidak cukup untuk menghilangkan tawuran sepenuhnya. Menurut dia, perubahan tetap bergantung pada kemauan masing-masing individu.

"Tempat kayak gini bisa bantu. Tapi yang paling penting orangnya mau berubah atau enggak," ujar Bintang, pelaku tawuran.

Fasilitas di bawah flyover ini kini ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan muda, termasuk mereka yang sekadar mengikuti tren. Bintang sendiri menyikapi fenomena ini dengan pandangan yang sangat terbuka.

"Fomo olahraga enggak apa-apa. Yang penting arahnya positif," kata Bintang, pelaku tawuran.

Artikel terkait

Rekomendasi