Nilai komoditas emas dunia mengalami penguatan tipis pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah ditopang oleh penurunan indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Kenaikan harga logam mulia tersebut terpantau masih tertahan akibat lonjakan imbal hasil obligasi serta kenaikan harga minyak yang memicu kecemasan inflasi, seperti dilansir dari Investasi.
Berdasarkan data akhir perdagangan AS, harga emas spot menguat 0,2 persen menjadi US$ 4.548,14 per ons setelah sempat merosot ke level terendah sejak akhir Maret lalu, sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman Juni justru turun tipis 0,1 persen ke posisi US$ 4.558 per ons.
Penyusutan indeks dolar AS sekitar 0,3 persen terhadap mata uang utama global menjadi stimulus yang meringankan biaya pembelian emas bagi para pemilik mata uang asing.
Penilaian terhadap situasi pasar modal ini disampaikan oleh Jim Wyckoff selaku analis pasar dari American Gold Exchange.
"Indeks dolar AS turun ke titik terendah sesi dan itu menjadi sentimen positif bagi emas. Tetapi kenaikan imbal hasil obligasi bisa menahan bahkan menekan harga logam mulia dalam waktu dekat," ujar Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange.
Kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak Februari 2025 memicu kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam dampak kenaikan harga energi konflik Iran.
Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent tercatat telah melonjak sekitar 55 persen sejak pecahnya konflik bersenjata pada 28 Februari lalu, sementara harga emas spot justru terkoreksi sebesar 13,8 persen pada periode tersebut.
Kondisi pasar yang fluktuatif membuat perbankan investasi seperti JPMorgan Chase memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi US$ 5.243 per ons dari estimasi awal sebesar US$ 5.708 per ons.
Pergerakan komoditas logam mulia lainnya menunjukkan harga perak spot naik 1,4 persen ke US$ 77,04 per ons, platinum turun 0,1 persen ke US$ 1.972,10 per ons, dan paladium melemah 0,2 persen ke level US$ 1.409,75 per ons.