Sejumlah mata uang utama dunia memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar Amerika Serikat untuk bergerak menguat pada Senin (1/6) pukul 12.00 WIB. Langkah pelaku pasar mengurangi posisi pada aset aman dipicu oleh meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat serta optimisme dari upaya diplomasi di Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Data perdagangan menunjukkan pasangan EUR/USD meningkat 0,03 persen dalam sepekan ke posisi 1,16, sementara dolar Australia naik 0,15 persen ke level 0,71. Lonjakan terbesar dibukukan oleh dolar Selandia Baru yang menguat hingga 1,63 persen ke posisi 0,59, sedangkan poundsterling justru melemah 0,37 persen ke level 1,34 dan yen Jepang tertekan ke level 159,45 per dolar AS.
Kombinasi antara sentimen geopolitik global dan ekspektasi kebijakan moneter menjadi pendorong utama penguatan mata uang utama terhadap dolar AS. Respons positif pasar terhadap diplomasi Amerika Serikat dan Iran memicu harapan penurunan risiko gangguan pasokan energi yang kemudian menekan harga minyak dunia.
Di sisi lain, indeks dolar AS bergerak di sekitar level 99 pada Senin (1/6) pukul 12.20 WIB atau mencatat penurunan sebesar 0,20 persen dalam sepekan terakhir. Kondisi ini terjadi setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures AS yang berada di bawah perkiraan pasar.
"Penurunan harga energi dan inflasi AS yang lebih lunak membuat tekanan terhadap dolar AS meningkat. Hal ini tercermin dari indeks dolar AS yang bergerak di sekitar level 99," ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (29/5).
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai bahwa dolar Selandia Baru menjadi komoditas valuta asing dengan kinerja paling positif saat ini. Sikap ketat yang diperkirakan bakal dipertahankan oleh Reserve Bank of New Zealand dalam mengendalikan inflasi menjadi penopang utama mata uang tersebut.
Sebaliknya, ketidakpastian arah normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan membuat yen Jepang masih berada di bawah tekanan besar. Investor melihat selisih imbal hasil antara aset keuangan di Jepang dan Amerika Serikat yang masih lebar menjadi pembatas bagi apresiasi mata uang yen.
Dalam jangka pendek, mata uang euro dinilai memiliki daya tarik tinggi bagi para investor akibat proyeksi kebijakan ketat dari European Central Bank. Memasuki kuartal III 2026, EUR/USD diproyeksikan bergerak pada kisaran 1,15 hingga 1,18, sementara NZD/USD berada di rentang 0,58 sampai 0,61, dan USD/JPY bergerak di area 156,50 hingga 161,50.