Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026) memicu dampak nyata bagi kehidupan masyarakat di wilayah pedesaan dan kelompok perumahan rendah akibat ketergantungan pada komponen impor, seperti dilansir dari Money.
Kondisi keuangan ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang membebani pasar keuangan, di mana sektor pertanian menjadi lini pertama di pedesaan yang mendeteksi imbas dari koreksi kurs mata uang garuda tersebut.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa masyarakat kelas bawah tetap merasakan imbas negatif secara langsung meskipun tidak menggunakan mata uang asing dalam kegiatan operasional harian.
"Kalau ditanya apakah pelemahan rupiah paling terasa ke masyarakat kelas bawah dan desa, jawabannya justru iya. Memang mereka tidak bertransaksi langsung memakai dollar AS, tetapi banyak kebutuhan dasar mereka sangat memengaruhi barang dan bahan baku impor," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Kenaikan ongkos produksi ini langsung terjadi pada sektor pertanian pedesaan karena mayoritas komponen pendukungnya masih didatangkan dari luar negeri.
"Dampaknya paling cepat terasa lewat pertanian. Bahan baku pupuk, pestisida, benih, sampai obat ternak masih banyak impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik. Subsidi pupuk memang ditahan pemerintah, tetapi pupuk non-subsidi dan input pertanian lain biasanya lebih cepat naik. Akibatnya margin petani ikut tertekan," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Selain mengganggu lini produksi, lonjakan harga akibat pergerakan kurs ini juga menyasar komoditas pangan pokok konsumsi harian masyarakat.
"Lalu dari sisi konsumsi harian, banyak makanan yang sangat dekat dengan masyarakat desa ternyata sensitif terhadap kurs. Gandum untuk mi instan dan roti itu impor, begitu juga sebagian besar kedelai untuk tahu dan tempe," ungkap Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Kondisi ini membuat pengeluaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar menjadi semakin tinggi.
"Jadi walaupun masyarakat desa tidak memegang dollar, harga kebutuhan pokok mereka tetap ikut terdorong naik ketika rupiah melemah," tegas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Yusuf menilai gangguan ekonomi ini meluas hingga ke sektor energi, logistik distribusi, dan pembiayaan layanan kesehatan masyarakat desa.
"Energi dan distribusi juga terdampak. Ketika kurs melemah, tekanan terhadap BBM dan biaya logistik meningkat. Ini membuat ongkos distribusi barang ke desa lebih mahal, sementara biaya petani mengangkut hasil panen juga ikut naik. Dari sisi kesehatan juga sama, karena sebagian besar bahan baku obat masih impor sehingga harga obat berpotensi ikut naik," tutur Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Struktur anggaran rumah tangga pedesaan yang didominasi oleh pengeluaran primer membuat kelompok ini tidak memiliki fleksibilitas keuangan.
"Kenapa dampaknya lebih berat ke desa? Karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga desa memang untuk pangan dan energi. Jadi ketika harga dua komponen itu naik, daya beli mereka lebih cepat tergerus dibandingkan kelompok menengah atas yang punya penghematan dan ruang konsumsi lebih fleksibel," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Pandangan serupa mengenai kerentanan kelompok ekonomi bawah juga disampaikan oleh akademisi Universitas Islam Internasional Indonesia.
"Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki banyak pilihan," ujar Teguh Yudo Wicaksono, Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia.
Masyarakat diminta mengantisipasi imported inflation akibat banyaknya komoditas yang masih harus dibeli dari pasar internasional.
"Banyak juga barang-barang kita yang impor," ucap Teguh Yudo Wicaksono, Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia.
Teguh membantah anggapan bahwa warga desa terisolasi dari dampak penurunan nilai tukar karena adanya hubungan ekonomi yang erat dengan wilayah perkotaan.
"Tetapi asumsi bahwa warga desa tidak terdampak ini tidak betul. Jangan lupa desa dan kota juga saling melakukan aktivitas ekonomi. Kita kota yang terdampak, desa akan kena juga," ungkap Teguh Yudo Wicaksono, Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia.
Pelemahan mata uang ini turut dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global serta respons pelaku pasar terhadap situasi domestik.
"Hal ini juga membuat harga minyak mentah dunia kembali naik. Range Rp 17.550 sampai Rp 17.650," ungkap Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Sentimen negatif internal dari dalam negeri juga dinilai ikut memengaruhi pergerakan mata uang garuda di pasar spot.
"Pidato tersebut umumnya direspons negatif investor," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Sebelumnya, pemerintah menyatakan pandangan berbeda terkait hubungan antara masyarakat pedesaan dengan pergerakan mata uang dollar AS.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ungkap Prabowo Subianto, Presiden RI.
Pemerintah menegaskan bahwa kondisi ketahanan pangan dan pasokan energi nasional masih berada dalam posisi yang aman dari gejolak global.
"Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucap Prabowo Subianto, Presiden RI.
Dampak penurunan nilai tukar dinilai hanya akan dirasakan oleh kelompok masyarakat tertentu yang sering beraktivitas di luar negeri.
"Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa tidak pakai dollar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri. Ayo siapa ini?" ungkap Prabowo Subianto, Presiden RI.
Hingga pukul 14.36 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot bertengger di level Rp 17.662 per dollar AS, setelah sebelumnya sempat merosot ke titik terendah Rp 17.680 per dollar AS pada pukul 12.26 WIB.
"Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat, orang mau mengomong apa. Indonesia kuat, percaya pada kekuatan kita," tutup Prabowo Subianto, Presiden RI.