Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah hingga menyentuh level Rp18.049 per dolar AS di pasar spot pada Kamis (4/6/2026) kini berpotensi menekan kinerja emiten sektor otomotif di Indonesia.
Kondisi mata uang Garuda yang telah anjlok 7,91 persen sejak awal tahun tersebut berdampak langsung pada industri otomotif tanah air karena besarnya ketergantungan terhadap impor komponen dan bahan baku, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Manajemen PT Astra International Tbk menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar ini diantisipasi melalui diversifikasi portofolio bisnis grup yang luas serta orientasi pada pasar domestik guna mengurangi eksposur risiko.
"Salah satu kekuatan utama Astra adalah portofolio bisnis yang terdiversifikasi dengan baik dan berorientasi pada pasar domestik Indonesia. Portofolio bisnis Astra yang terdiversifikasi memberikan natural hedge karena kami memiliki eksposur baik dalam Rupiah maupun Dolar AS," kata Windy Riswantyo, Head of Corporate Communications Astra.
Langkah mitigasi juga dilakukan perseroan melalui lini bisnis ekspor untuk mengimbangi tekanan volatilitas mata uang eksternal.
"Dampaknya adalah kenaikan biaya produksi dan tekanan terhadap margin, terutama jika daya beli masyarakat belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga kendaraan," jelas Elandry, Analis.
Kondisi ini menempatkan emiten dengan eksposur valas tinggi seperti IMAS dan ASII dalam posisi rentan, meskipun skala bisnis yang besar membuat ASII dinilai lebih defensif.
"Kami menilai ASII akan cukup resilien didukung oleh diversifikasi bisnisnya. Untuk rekomendasi jangka panjang ialah buy saham ASII dengan target Rp 7.100," ungkap Adrian Djie, Analis Kiwoom Sekuritas.
Di sisi lain, situasi berbeda dialami oleh PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) yang justru mendapatkan dampak positif karena sebagian besar pendapatannya berbasis ekspor.
"Dengan komposisi tersebut, hingga saat ini perusahaan belum melihat dampak negatif yang cukup signifikan terhadap operasional maupun kinerja keuangan," terang Ang Andri Pribadi, Wakil Direktur Utama SMSM.
Perusahaan tersebut mengoptimalkan keseimbangan antara pendapatan ekspor dan kebutuhan bahan baku impor sebagai strategi perlindungan nilai yang efektif.