Kelangsungan industri minuman kemasan di Indonesia kini berada di bawah bayang-bayang ancaman serius. Kondisi ini dipicu oleh nilai tukar Rupiah yang merosot hingga menyentuh angka Rp18.066 per Dolar AS pada Jumat (5/6/2026), seperti dikutip dari Suara.
Sektor manufaktur ini harus menghadapi lonjakan biaya operasional yang membengkak akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan impor. Situasi tersebut kian rumit di tengah tekanan inflasi yang mengikis daya beli masyarakat.
Padahal, aktivitas konsumsi domestik serta momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran sebelumnya menjadi motor penggerak utama bagi permintaan produk minuman ringan di tanah air.
Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak menjelaskan bahwa pergerakan pasar sebenarnya sempat didukung oleh tingginya mobilitas warga. Namun, faktor eksternal berupa fluktuasi mata uang asing menjadi ganjalan besar.
"Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per Dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri," katanya.
Berdasarkan catatan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia dari data BPS, perekonomian domestik pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Sektor pengolahan tetap menjadi penopang utama Produk Domestik Berafiliasi (PDB) nasional dengan andil 19,07 persen, di mana industri makanan dan minuman menyumbang 7,31 persen.
Meski begitu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo menilai lini bisnis ini belum kembali ke performa terbaiknya. Walau tumbuh positif 6,38 persen sepanjang 2025, angka itu masih di bawah pencapaian sebelum pandemi yang biasanya menyentuh 7 hingga 9 persen.
"Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat," ungkapnya.
Kondisi pasar semakin tertekan oleh laju inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 3,06 persen secara tahunan per April 2026. Angka ini berada di atas tingkat inflasi umum nasional yang tercatat sebesar 2,42 persen.
Langkah Strategis Pemerintah dan Resiliensi Usaha
Merespons situasi ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk memastikan iklim usaha di sektor manufaktur tetap berjalan kondusif melalui berbagai kebijakan strategis.
Perwakilan Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria mengonfirmasi bahwa industri makanan dan minuman memegang peranan krusial sebagai subsektor utama yang menopang pertumbuhan kekuatan industri nasional.
"Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor mamin," paparnya.
"Kami juga akan terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global," lanjutnya.
Melihat arah kebijakan tersebut, Triyono Prijosoesilo menggarisbawahi bahwa kolaborasi jangka panjang menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan industri dalam menghadapi gejolak ekonomi global.
"Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha. ASRIM mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan industri, termasuk cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, dan perlindungan tenaga kerja nasional," jelasnya.