Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

BANYAK pihak menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketika tulisan ini dibuat, nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.500-an per dolar AS, melebihi asumsi di APBN 2026 sebesar Rp 16.500.

Banyak pihak yang kemudian memprediksi akan terjadi krisis seperti tahun 1997/1998. Kala itu, nilai tukar rupiah dalam hitungan hari merosot atau terdperesiasi dari Rp 2.000 per dolar AS menjadi Rp 16.000 per dolar AS.

Namun, hal itu tidak tepat. Pertama, pelemahan nilai rupiah yang drastis di 1997/1998 terjadi sangat cepat, dalam hitungan hari. Sementara pelemahan rupiah saat ini terjadi sangat lambat.

Kedua, dari sisi tingkat depresiasinya, saat ini tidak sehebat tahun 1997/1998. Bahkan depresiasi rupiah saat ini masih lebih baik dari Lira Turkiye dan Rupee India.

Ketiga, saat ini fundamental ekonomi Indonesia lebih baik: pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, inflasi masih terjada di kisaran 2,5 plus minus 1 persen, dan cadangan devisa saat ini per akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dollar AS, setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Angka itu jauh dari batas aman standar internasional yang menyatakan batas aman cadangan devisa adalah setara dengan 3 bulan impor.

Keempat, Indoneia sudah punya Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang selalu berkoordinasi dan sudah mempunyai protokol untuk mencegah krisis keuangan.

Kesimpulannya, tidak akan terjadi krisis keuangan seperti tahun 1997/1998. Kecuali jika ada pihak yang khawatir dan panik akan terjadi krisis, kemudian ditularkan atau menular kepada lain, sehingga terjadilah apa yang disebut self-fulfilling prophecy (ramalan yang terwujud dengan sendirinya).

Artinya, jika semua berpikir akan terjadi krisis lalu menyesuaikan perilakunya dengan hal tersebut, maka krisis akan terjadi sungguh-sungguh.

Maka masyarakat dan dunia usaha harus tetap tenang supaya pelemahan nilai tukar rupiah ini jangan membuat panik dan membuat krisis keuangan benar-benar terjadi.

Menjaga Volatilitas Lebih Penting

Tentunya BI tidak tinggal diam menghadapi terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sudah tepat bahwa arah kebijakan BI lebih kepada menjaga agar volatilitas nilai tukar rupiah daripada menjaga levelnya.

Pertama, BI memang hati-hati menjaga cadangan devisa agar tidak terlalu boros dikeluarkan untuk menjaga level nilai tukar rupiah ini.

Kedua, volatilitas (naik turunnya) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang sangat penting dijaga agar tidak terlalu tajam.

Volatilitas atau naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terlalu tajam punya dampak negatif.

Pertama, akan memancing para spekulan untuk masuk ke pasar valuta asing Indonesia untuk mencari untung dengan memanfaatkan spread atau kurs beli dan jual.

Hal ini tentu akan membuat keadaan sektor keuangan khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya akan kacau.

Kedua, dunia usaha akan lebih nyaman dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fluktuasinya tidak tajam karena menjaga kepastian dunia usaha dalam merencanakan dan menjalankan bisnisnya.

Hasilnya memang volatilitas atau fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif kecil dibanding mata uang negara lain.

Berikut perbandingan volatilitas berbagai mata uang dunia dengan menggunakan standar deviasi hasil hitungan BI: Rupiah (4,81), Ruppe India (8,88), Peso Philipina (10,72,) Baht Thailand (12,56), Rand Afrika Selatan (16,69), Peso Argentina (34,71), dan Real Brasil (34,83). Indonesia hanya kalah sedikit dengan Lira Turkiye (4,81)

Artikel terkait

Rekomendasi