Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Picu Kenaikan Pengeluaran Rumah Tangga

Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Picu Kenaikan Pengeluaran Rumah Tangga

Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh angka Rp17.704 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (19/5/2026) mulai berdampak langsung pada peningkatan biaya hidup dan pengeluaran domestik rumah tangga masyarakat.

Depresiasi mata uang ini memicu lonjakan harga barang pokok, biaya pendidikan, hingga kebutuhan bayi karena banyak industri nasional yang masih bergantung pada pasokan bahan baku impor. Berdasarkan laporan Kompas.com, situasi tersebut memaksa para ibu rumah tangga melakukan penghematan anggaran serta menggunakan dana simpanan.

Ibu rumah tangga asal Bogor, Ade Rizky, menjelaskan bahwa fluktuasi harga mulai mengganggu pengelolaan keuangan keluarga, terutama pada komoditas pangan pokok yang mengalami kenaikan berkisar antara Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilogram.

"Harga kebutuhan pokok sedikit naik, Rp 1.000 sampai Rp 3.000 per kilogram, seperti telur, ayam, dan perbumbuan. Belum signifikan memang, tapi cukup mengganggu cashflow rumah tangga kalau berlangsung lama," ujar Ade Rizky.

Ade menambahkan bahwa pengetatan anggaran belanja kini berfokus pada pemangkasan sektor non-primer seperti rekreasi, seraya memanfaatkan potongan harga di pasar daring untuk menekan pengeluaran pokok harian.

"Penghematan harus dilakukan. Kami bikin opsi untuk menekan biaya lain seperti hiburan supaya kebutuhan pokok tetap terpenuhi," kata Ade Rizky.

Ia juga menyatakan kekhawatiran terkait potensi dampak jangka panjang penurunan nilai rupiah terhadap harga bahan bakar minyak, serta menyanggah opini bahwa gejolak ekonomi ini tidak menyentuh masyarakat kelas bawah.

"Selain itu kami juga gencar cari barang diskon di marketplace supaya lebih hemat," ujarnya.

Kekhawatiran Ade tertuju pada stabilitas anggaran domestik apabila inflasi sektor energi dan pangan terus berlanjut tanpa kendali dalam waktu lama.

"Kalau rupiah makin melemah dan memengaruhi harga minyak, bensin, dan makanan pokok dalam waktu lama, itu sangat mengganggu," ucap Ade Rizky.

Menurut pantauannya, dampak ekonomi dari pelemahan nilai tukar ini justru paling pertama mengoreksi daya beli masyarakat lapisan bawah.

"Statement pemimpin bahwa itu tidak berdampak pada masyarakat desa menurut saya salah besar. Justru masyarakat bawah yang paling terasa imbas kenaikan harga," kata Ade Rizky.

Tekanan serupa juga dialami oleh Riris P, seorang ibu rumah tangga di Sidoarjo, yang mengaku alokasi belanja harian untuk keluarganya melonjak melampaui batas normal.

"Yang biasanya sehari belanja Rp 100.000 sekarang bisa lebih karena bahan kebutuhan pokok pada naik," ujar Riris P.

Riris memaparkan bahwa pendapatan rutin bulanan saat ini tidak lagi mencukupi, sehingga memaksa keluarga menarik dana dari tabungan demi menutupi biaya operasional domestik.

"Kebutuhan bukan hanya pangan saja, ada anak sekolah, listrik, dan lainnya," katanya.

Meski telah menekan pengeluaran non-esensial dan mengupayakan pendapatan tambahan lewat usaha sampingan, laju kenaikan harga dinilai bergerak terlalu cepat.

"Harga-harga sangat melejit semua," kata Riris P.

Fokus kecemasan utama Riris terletak pada kesinambungan pembiayaan pendidikan anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi di tengah himpitan ekonomi.

"Yang kami khawatirkan kondisi anak yang tidak bisa meneruskan ke jenjang sekolah tinggi, sedangkan anak dituntut sekolah lebih tinggi agar bisa mencapai cita-citanya," ujar Riris P.

Sementara itu, warga Bogor lainnya, Dwi, menuturkan bahwa peningkatan harga yang paling signifikan terjadi pada instrumen kebutuhan bayi, seperti popok yang naik mendekati angka 10 persen.

"Karena saat ini saya punya bayi, yang paling dirasakan itu pengeluaran beli popok. Harganya cukup signifikan naiknya, hampir 10 persen," ujar Dwi.

Dwi memproksimasikan inflasi ini juga akan merembet ke sektor operasional sekolah menjelang tahun ajaran baru, yang berimplikasi pada kenaikan harga buku, seragam, dan uang sekolah.

"Sejujurnya tidak cukup. Beberapa kali kami harus mengambil tabungan atau dana darurat," katanya.

Guna mengantisipasi defisit, Dwi membatasi rekreasi keluarga serta mengurangi volume belanja harian secara ketat.

"Semua pasti naik, uang sekolah, buku, dan seragam," ujarnya.

Dwi menegaskan risiko terbesar dari fenomena ini adalah hilangnya kemampuan rumah tangga untuk mengalokasikan dana ke pos investasi atau tabungan masa depan.

"Yang saya takutkan itu tidak bisa menabung atau investasi karena pengeluaran lebih besar daripada penghasilan," jelas Dwi.

Dilansir dari Kumparan.com, penguatan dolar AS terhadap rupiah menuntut generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z, untuk mengubah prioritas keuangan dari pola konsumsi impulsif menuju ketahanan finansial. Langkah mitigasi yang disarankan meliputi pembentukan dana darurat setara 6 hingga 12 bulan biaya hidup, diversifikasi aset ke instrumen safe-haven seperti emas atau reksa dana, serta penciptaan sumber pendapatan alternatif.

Artikel terkait

Rekomendasi