Pelemahan Rupiah Hambat Penjualan Hewan Kurban Menjelang Idul Adha 2026

Pelemahan Rupiah Hambat Penjualan Hewan Kurban Menjelang Idul Adha 2026

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai menghambat penjualan hewan kurban menjelang Idul Adha 2026, Selasa (19/5/2026). Penurunan omzet tersebut dirasakan langsung oleh para peternak rakyat di kawasan pedesaan akibat penurunan daya beli masyarakat.

Kondisi lesunya pasar hewan kurban ini dialami oleh para peternak lokal, termasuk pada sektor usaha peternakan domba skala kecil, dilansir dari Megapolitan. Penurunan minat beli tersebut terjadi di tengah lonjakan biaya hidup masyarakat serta peningkatan biaya produksi peternakan.

“Biasanya bulan-bulan haji seperti sekarang, sejak awal Zulhijah itu domba sudah mulai habis terjual. Namun saat ini masih banyak yang belum terjual,” kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Pemindo), Kusnan.

Kusnan menjelaskan bahwa situasi pelambatan pasar ini menjadi indikator nyata atas melemahnya kekuatan finansial konsumen di tingkat bawah. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dinilai menjadi pemicu utama masyarakat menahan pengeluaran mereka.

“Itu dampak nyata yang kami rasakan di level bawah, khususnya di pedesaan,” ujarnya.

Selain menurunkan angka penjualan ternak kurban, depresiasi mata uang rupiah memicu lonjakan harga pakan ternak di pasaran. Sebagai contoh, harga pakan ayam petelur kembali mengalami kenaikan sebesar Rp200 per kilogram pada awal pekan ini.

“Harga kebutuhan hidup dan biaya produksi ikut naik ketika rupiah melemah,” kata Kusnan.

Ketergantungan sektor peternakan domestik terhadap bahan baku impor menjadi penyebab utama pembengkakan biaya operasional. Para peternak mandiri terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakan dan obat-obatan dari pihak pabrikan.

Kondisi operasional para peternak rakyat kini semakin tertekan karena harga jual komoditas lain seperti telur dan daging ayam justru sedang merosot. Penurunan harga jual di tingkat peternak tersebut juga gagal menstimulasi volume pembelian oleh konsumen.

“Harusnya kalau harga lagi murah mudah dibeli, tapi ternyata daya beli masyarakat juga lemah,” ujar Kusnan.

Dampak ekonomi dari pelemahan nilai tukar mata uang ini ditegaskan tidak hanya mengoreksi performa bisnis skala besar. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pedesaan kini ikut menanggung risiko dari dinamika makroekonomi tersebut.

“Pelemahan rupiah sangat berdampak bagi peternak rakyat, UMKM, dan pelaku usaha kecil menengah ke bawah,” kata Kusnan.

Berdasarkan data perdagangan di pasar spot pada Selasa (19/5/2026), mata uang rupiah ditutup melemah menghadapi dollar AS. Rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 38 poin atau melemah 0,22 persen hingga menetap di level Rp17.706 per dollar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi