Nilai tukar rupiah yang merosot hingga menyentuh angka Rp17.600 per satu dolar AS memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan pangan impor di Indonesia pada Minggu (17/5/2026). Kondisi yang disebabkan oleh ketidakpastian global imbas konflik di Timur Tengah ini mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Tekanan terhadap mata uang nasional ini berdampak langsung pada komoditas pangan yang bergantung pada bahan baku impor seperti gandum dan kedelai. Kenaikan harga beli bahan baku tersebut otomatis menaikkan harga produk turunannya termasuk tahu, tempe, roti, hingga mi instan secara signifikan.
Selain itu, kenaikan biaya logistik turut mengerek harga sayur-mayur lokal karena harga bahan bakar minyak (BBM) global menggunakan denominasi dolar AS. Para petani juga menghadapi pembengkakan biaya produksi akibat naiknya harga komponen impor seperti pupuk, obat-obatan, dan suku cadang alat mesin pertanian.
Akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi menilai situasi ini dipicu oleh akumulasi tekanan global dan domestik secara bersamaan.
"perfect storm"
kata Rijadh Djatu Winardi dilansir dari laman resmi UGM. Situasi tersebut memberikan empat konsekuensi serius bagi dunia usaha, khususnya pelaku UMKM, mulai dari lonjakan biaya produksi bahan baku impor hingga pembengkakan beban utang dalam dolar.
Pelemahan rupiah ini juga menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang terpaksa mengurangi konsumsi atau beralih ke pangan lebih murah. Sementara itu, pemerintah dihadapkan pada pembengkakan subsidi energi dan beban utang luar negeri yang berpotensi menyedot anggaran sektor pendidikan serta kesehatan.