Pelemahan Rupiah Kerek Biaya Produksi Sektor Pertanian Nasional

Pelemahan Rupiah Kerek Biaya Produksi Sektor Pertanian Nasional

Ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku pupuk, pestisida, serta alat mesin pertanian memicu lonjakan ongkos produksi petani domestik akibat pelemahan nilai tukar rupiah, sebagaimana dilansir dari Nasional.

Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian mengonfirmasi bahwa tekanan depresiasi mata uang terhadap harga input produksi pertanian sudah mulai terdeteksi belakangan ini.

"Berdasarkan perhitungan CORE, dampak depresiasi rupiah terhadap harga beberapa input produksi pertanian tercatat cukup signifikan yaitu pupuk naik sekitar 0,63%, pestisida sekitar 0,70%," ujar Eliza kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Kenaikan harga input produksi dinilai Eliza ikut mendongkrak biaya produksi petani lokal, di samping meningkatkan harga pangan impor secara langsung. Komponen pakan ternak, pupuk, dan pestisida menjadi yang paling rentan karena krusial bagi produktivitas.

"Ketika harga input naik, petani biasanya mengurangi penggunaan pupuk atau menekan biaya produksi lainnya. Dalam jangka menengah hal ini berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga pangan," katanya.

Efek berantai pergerakan kurs ini berujung pada transmisi biaya, mulai dari pembengkakan ongkos impor bahan baku, naiknya biaya produksi dan distribusi, hingga bermuara pada lonjakan harga di tingkat konsumen.

"Depresiasi rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku, kemudian biaya produksi pertanian naik, distribusi ikut naik, lalu diteruskan menjadi kenaikan harga pangan di tingkat konsumen," ujar Eliza.

Modal yang terbatas membuat petani kecil menjadi pihak yang paling terbebani apabila penurunan nilai tukar rupiah ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang panjang.

"Margin keuntungan petani berpotensi makin tergerus karena biaya produksi meningkat lebih cepat dibanding kemampuan pasar menyerap kenaikan harga," katanya.

Penurunan intensitas produksi serta pengurangan input pertanian berisiko diambil petani sebagai langkah efisiensi biaya. Hal ini berpotensi mengancam produktivitas pertanian nasional saat pemerintah fokus menjaga ketahanan pangan.

"Ke depan tantangannya bukan hanya menjaga produksi tetap tinggi, tetapi juga memastikan sektor pertanian memiliki struktur yang lebih resilien terhadap dinamika global," tutup Eliza.

Artikel terkait

Rekomendasi