Kenaikan inflasi nasional akibat dampak depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan mulai terlihat pada perhitungan bulan Mei 2026 yang akan diumumkan resmi awal Juni mendatang.
Prediksi tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Senin (18/5/2026).
"Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor," kata Telisa Aulia Falianty, Guru Besar FEB UI.
Komoditas tinggi impor yang dinilai rentan terdampak komoditas tersebut meliputi obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi.
Menurut laporan ANTARA, indikasi tekanan nilai tukar terhadap inflasi tecermin dari kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) dari 106,00 pada Januari 2026 menjadi 109,07 pada April 2026, atau melonjak 3,81 persen secara tahunan.
"Biasanya, Indeks Harga Perdagangan Besar akan memengaruhi inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen)," ucap Telisa Aulia Falianty.
Guna meredam efek kenaikan harga produksi, pemerintah didorong melakukan efisiensi biaya logistik bagi pengusaha, mengimbau produsen menjaga margin harga yang wajar, serta mendiversifikasi penggunaan mata uang nondolar.
"Karena kalau rupiah stabil, imported inflation dapat dikendalikan," ujar Telisa Aulia Falianty.
Sepanjang tahun kalender berjalan, rupiah telah menyusut 5,99 persen terhadap dolar AS, di mana pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) melemah ke posisi Rp17.668 per dolar AS sementara kurs JISDOR Bank Indonesia berada di level Rp17.666 per dolar AS.