Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh level Rp 17.500 per dollar AS pada Rabu (13/5/2026) dilaporkan mulai menekan daya beli masyarakat Indonesia. Kondisi ini terutama berdampak pada kelompok menengah dan bawah akibat kenaikan harga pangan, energi, serta biaya transportasi yang dipicu oleh ketergantungan pada komoditas impor.
Depresiasi mata uang nasional ini berisiko memicu inflasi impor karena sektor industri dalam negeri masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri, sebagaimana dilansir dari Money. Hal ini menjadi ancaman serius mengingat konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari 53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa tekanan akan langsung terasa pada biaya hidup harian. Sektor transportasi dan kebutuhan pokok menjadi garda terdepan yang mengalami kenaikan harga akibat fluktuasi kurs ini.
“Pelemahan rupiah hingga Rp 17.500 per dollar AS akan langsung menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah, karena Indonesia masih bergantung pada impor pangan, energi, dan bahan baku industri,” ujar Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Rizal menekankan bahwa kenaikan pengeluaran rumah tangga tidak sejalan dengan pertumbuhan pendapatan riil. Hal ini menyebabkan masyarakat rentan mengalami penurunan kesejahteraan di tengah meningkatnya cicilan dan biaya utilitas.
“Risiko inflasi cukup besar karena depresiasi rupiah memicu imported inflation, terutama pada BBM, LPG, pangan impor, obat-obatan, dan bahan baku industri,” katanya.
Menurut Rizal, ketergantungan pada impor minyak mentah sebesar satu juta barel per hari menjadi faktor beban tambahan bagi anggaran negara dan biaya produksi. Situasi ini kian diperparah oleh kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta ketidakpastian geopolitik global.
“Kalau kondisi ini berlanjut, tekanan inflasi dan biaya hidup masyarakat akan semakin berat,” ujar Rizal.
Senada dengan analisis tersebut, Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti dampak spesifik pada harga sumber protein rakyat. Ia menilai kenaikan harga bahan baku impor seperti gandum dan kedelai akan secara otomatis mengerek harga produk turunan di pasar domestik.
“Kenaikan harga tahu-tempe sangat krusial bagi masyarakat kelas bawah karena itu sumber protein utama,” kata Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga.
Rahma juga memperingatkan potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jika nilai tukar terus merosot menuju angka Rp 18.000 per dollar AS. Pergeseran harga energi bersubsidi diprediksi akan berdampak langsung pada peningkatan angka kemiskinan secara mendadak.
“Kalau harga BBM subsidi ikut disesuaikan, dampaknya bisa langsung meningkatkan angka kemiskinan dan inflasi secara instan,” ujarnya.
Berdasarkan proyeksi Rahma, tingkat inflasi tahunan berisiko melonjak ke level 4,5 persen hingga 4,8 persen jika stabilitas kurs tidak segera terjaga. Pemerintah kini didorong untuk memperkuat bantuan sosial dan melakukan operasi pasar guna menjaga konsumsi domestik tetap stabil.