Nilai tukar rupiah yang terus melemah secara signifikan menekan kinerja emiten farmasi domestik akibat ketergantungan impor bahan baku aktif yang mencapai 85 persen hingga 90 persen. Kondisi tersebut memicu kenaikan biaya operasional dan mengancam posisi margin keuntungan perusahaan sektor kesehatan pada kuartal II dan III tahun 2026.
Kenaikan harga jual produk farmasi dinilai sulit dilakukan secara fleksibel karena regulasi pemerintah, terutama pada kategori obat generik. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investasi pada Selasa (19/5/2026), perusahaan berskala besar dinilai memiliki posisi negosiasi yang lebih kuat untuk menghadapi depresiasi kurs ini.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menjelaskan bahwa depresiasi mata uang berimbas langsung pada lonjakan biaya produksi sektor farmasi.
"Dampaknya langsung dan signifikan mengingat 90% API masih diimpor. Setiap pelemahan rupiah berpotensi langsung menaikkan cost of goods sold (COGS) secara proporsional," jelas Abida.
Secara historis, penurunan nilai mata uang sebesar 10 persen berpotensi memangkas margin laba kotor sebesar 2 hingga 4 persen jika tidak disertai efisiensi internal. Abida menilai situasi kuartal kedua dan ketiga tahun ini akan menjadi tantangan krusial bagi industri farmasi tanah air.
"Dengan rupiah yang sudah melemah signifikan secara year to date, tekanan margin di kuartal II hingga III 2026 akan menjadi ujian nyata bagi seluruh emiten farmasi domestik," tambahnya.
Langkah mitigasi melalui instrumen lindung nilai dinilai kurang efektif apabila volatilitas kurs berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
"Hedging cukup efektif untuk meredam volatilitas jangka pendek, namun bukan solusi struktural jika pelemahan rupiah berlangsung lama," ungkap Abida.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi mengonfirmasi bahwa penguatan kurs dolar AS berimbas pada rantai pasok industri kesehatan secara menyeluruh.
"Ketika kurs USD/IDR naik, maka biaya pengadaan bahan baku, packaging tertentu, hingga alat kesehatan ikut meningkat," jelasnya.
Kelemahan struktural ini berdampak lebih besar pada emiten seperti PT Kalbe Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) yang berfokus pada obat generik bermargin tipis. Sementara itu, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) memiliki ketahanan lebih baik karena variasi produk consumer health.
"Untuk produk OTC (over-the-counter) dan consumer health, perusahaan seperti KLBF dan TSPC relatif memiliki ruang lebih besar untuk menaikkan harga secara bertahap tanpa mengganggu volume," jelas Imam.
Dari seluruh pelaku industri, KLBF dianggap memiliki fundamental paling kuat dalam menahan guncangan makroekonomi saat ini.
"KLBF didukung neraca yang solid, posisi kas kuat, serta diversifikasi bisnis yang luas sehingga mampu menjaga margin lebih stabil dibandingkan peers," kata Imam.
Risiko nilai tukar ini juga menjadi sorotan utama dari Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo.
"Pelemahan rupiah cukup membebani sektor farmasi karena mayoritas bahan baku aktif masih bergantung pada impor," ujarnya.
Kendati demikian, kinerja keuangan dan valuasi pasar dari KLBF dinilai masih memberikan peluang investasi yang positif bagi pelaku pasar modal.
"Saat ini KLBF masih menarik secara valuasi dan sudah cukup murah, sehingga dapat dipertimbangkan untuk akumulasi atau wait and see," katanya.
Imam memberikan rekomendasi beli untuk saham KLBF pada rentang harga Rp 800 hingga Rp 820 per lembar, dengan target harga sebesar Rp 900 dan batas stop loss di bawah Rp 760.