Pelemahan Rupiah Menekan Pelaku Usaha Peternakan Rakyat di Pedesaan

Pelemahan Rupiah Menekan Pelaku Usaha Peternakan Rakyat di Pedesaan

Nilai tukar rupiah yang terus merosot terhadap dollar Amerika Serikat memicu lonjakan biaya produksi dan harga kebutuhan hidup masyarakat desa, khususnya para pelaku peternakan rakyat pada Selasa (19/5/2026).

Kondisi ini terjadi seiring melemahnya mata uang rupiah di pasar spot sebesar 38 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp 17.706 per dollar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Pemindo), Kusnan, menjelaskan bahwa penurunan nilai mata uang ini sangat membebani warga pedesaan karena mayoritas dari mereka menggantungkan hidup pada sektor informal.

"Kondisi saat ini memang sangat terasa dampaknya bagi masyarakat desa. Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan hidup dan biaya produksi ikut naik," kata Kusnan.

Kenaikan harga pakan ayam petelur yang mencapai Rp 200 per kilogram pada hari ini memperparah situasi finansial para peternak mandiri.

"Kalau diakumulasi, kenaikan pakan bulan ini sudah sekitar Rp 400 sampai Rp 500 per kilogram," ujarnya.

Lonjakan harga pakan tersebut secara otomatis mendongkrak biaya produksi operasional secara signifikan di tingkat peternak.

"Setiap kenaikan Rp 100 pada harga pakan ayam petelur bisa menambah HPP peternak sekitar Rp 500," kata dia.

Ketergantungan terhadap pasokan bahan baku impor dari luar negeri menjadi faktor utama pemicu kenaikan harga pakan dan obat-obatan hewan di dalam negeri.

"Pelemahan rupiah sangat berdampak bagi peternak rakyat karena kami membeli pakan dan obat-obatan dari pabrikan. Kami tidak bisa memproduksi sendiri," ujarnya.

Kondisi sektor peternakan kian terpuruk lantaran harga jual komoditas seperti telur dan ayam justru merosot di tengah rendahnya daya beli konsumen.

"Harusnya kalau harga lagi murah mudah dibeli, tapi ternyata daya beli masyarakat juga lemah," tutur dia.

Penurunan daya beli ini juga berimbas pada sektor penjualan hewan kurban yang masih sepi peminat walaupun sudah memasuki awal bulan Zulhijah menjelang Idul Adha 2026.

"Sekarang masih banyak yang belum terjual. Itu dampak nyata yang kami rasakan di level bawah, khususnya di pedesaan," ucapnya.

Artikel terkait

Rekomendasi