Nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS menyebabkan saham sektor perbankan dan barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi semakin tertekan. Mata uang Garuda ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dollar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Dilansir dari Money, kondisi nilai tukar tersebut diperkirakan masih akan terus mengalami depresiasi hingga mendekati level Rp 18.000 per dollar AS. Fenomena ini berdampak langsung pada emiten dengan liabilitas tinggi dalam valuta asing serta ketergantungan besar pada impor bahan baku.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa menjelaskan bahwa kenaikan biaya impor dan beban pembayaran utang valas akan menggerus margin keuntungan perusahaan secara signifikan. Emiten dengan belanja modal (capex) berbasis dollar juga menghadapi risiko tekanan yang cukup besar.
“Sektor yang paling rentan adalah emiten dengan utang dollar besar dan ketergantungan impor tinggi, consumer goods berbasis bahan baku impor, hingga emiten dengan capex dollar tinggi. Pelemahan rupiah langsung menekan margin dan beban bunga mereka,” ujar Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Sebaliknya, pelemahan mata uang domestik ini justru menjadi katalis positif bagi perusahaan berbasis ekspor dan komoditas, seperti nikel, batu bara, dan minyak sawit mentah (CPO). Pendapatan dalam dollar AS akan memberikan nilai lebih saat dikonversi ke rupiah.
“Emiten yang diuntungkan biasanya berbasis ekspor dan komoditas seperti batu bara, CPO, nikel, serta perusahaan dengan pendapatan dollar AS,” paparnya.
Reydi menambahkan bahwa sentimen negatif dari pasar global dan fluktuasi kurs tetap berpotensi memicu aksi jual massal dalam jangka pendek. Meski demikian, ia menilai ketahanan fundamental perbankan nasional saat ini masih cukup kuat.
“Pelemahan rupiah memang berpotensi memicu panic selling jangka pendek, tetapi kondisinya belum tentu separah krisis sebelumnya karena fundamental perbankan saat ini relatif lebih kuat. Namun volatilitas IHSG pasti meningkat karena sentimen pasar menjadi sangat sensitif,” tukas Rey.
Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyoroti adanya potensi rebalancing portofolio oleh investor asing di sektor perbankan. Pelebaran spread kurs sering kali direspons negatif oleh institusi internasional yang memiliki bobot kepemilikan saham besar.
“Perbankan cenderung merespons negatif, karena spread kurs akan memaksa rebalancing bagi institusi asing yang memiliki weighting besar di saham perbankan,” tukas Ahmad Faris Mu’tashim, Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI).
Di luar sektor energi, industri pulp atau bubur kertas dipandang sebagai pilihan investasi yang menarik karena profil pendapatannya yang didominasi oleh mata uang asing. Hal ini dinilai mampu menopang kinerja keuangan perusahaan di tengah ketidakpastian nilai tukar.
“Selain sektor energi, sektor pulp juga menjadi salah satu yang menarik karena revenue perusahaan dalam bentuk dollar AS,” lanjut dia.
Mengenai pergerakan teknikal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Faris melihat adanya batas penurunan yang mulai terbatas pada area indeks 6.800 hingga 6.900. Pelaku pasar saat ini tengah menantikan momentum penyeimbangan kembali indeks MSCI.
“Jika dilihat dari price action, area 6.800-6.900 susah ditembus, artinya downside mulai terbatas. Sell shock mungkin akan terjadi pada rebalancing MSCI yang dinantikan pelaku pasar, namun setelah itu akan terjadi reversal price,” katanya.