Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Tekan Pelaku UMKM di Jakarta

Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Tekan Pelaku UMKM di Jakarta

Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jakarta menyatakan kecemasan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang memicu lonjakan harga bahan baku impor. Berdasarkan data yang dilansir dari Money, nilai tukar rupiah ditutup pada level terendah sejarah yakni Rp 17.529 per dollar AS pada Selasa (12/5/2026).

Kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi komoditas pangan yang bergantung pada pasokan luar negeri, seperti kedelai dan bumbu dapur. Tekanan ekonomi tersebut diperparah oleh ketegangan geopolitik di Asia Barat yang menghambat pasokan bahan baku industri lainnya.

Maghfiroh, seorang pengrajin tempe asal Kebayoran, menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai sangat membebani usahanya karena margin keuntungan yang semakin menipis. Untuk memproduksi 70 hingga 75 kilogram tempe setiap hari, ia harus membeli bahan baku dalam jumlah besar di tengah tren harga yang terus merangkak naik.

"Kan sudah pernah sampai empat belas ribu juga. Sudah pernah sampai berapa bulan itu kita enggak ada untung sama sekali buat makan doang, enggak ada sisa," kata Maghfiroh saat ditemui di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (13/5/2026).

Kenaikan harga kedelai tercatat mencapai Rp 500 per kilogram, yang berarti Maghfiroh harus merogoh kocek tambahan sebesar Rp 50.000 untuk setiap ton kedelai yang dibeli. Selain kedelai, ia juga mengeluhkan kenaikan harga plastik pembungkus akibat gangguan pasokan nafta dari Asia Barat.

"Jadi kalau kita belanjanya kan per ton, per tonnya berarti naiknya lima puluh ribu," ujar Maghfiroh.

Meski biaya operasional melonjak, para pengrajin tidak berani mengubah harga jual atau ukuran produk karena risiko kehilangan pelanggan. Maghfiroh memilih untuk mempertahankan kualitas demi menjaga kepercayaan pembeli walaupun keuntungan pribadinya tergerus.

"Pelanggan kalau dikecilin enggak mau, ditipisin juga dia enggak mau. Jadi kita kualitas tetap sama, harga tetap sama, jadi untungnya yang berkurang," tutur Maghfiroh.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Nurhayati, pemilik warung makan yang memantau pergerakan nilai tukar saat rupiah menyentuh angka Rp 17.400. Ia mencermati kenaikan harga komoditas impor seperti bawang putih serta bahan pangan lokal seperti cabai dan bawang merah.

"Tapi kami butuh, mau enggak mau kita harus perlu, kita juga mencari nafkah untuk menjual lagi, jualan apa gitu kan membutuhkan barang-barang ini," ujar Nurhayati di Pasar Palmerah.

Nurhayati berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga bahan pangan di pasar. Ketidakpastian ekonomi global membuatnya sulit memprediksi keberlangsungan usahanya di masa depan.

"Masih dalam kondisi agak-agak khawatir memang. Terus gimana ke depannya apakah bisa turun apa mau bagaimananya saya enggak tahu," kata Nurhayati.

Sementara itu, pedagang tahu bernama Karsito memilih untuk bersikap pasrah menghadapi fluktuasi ekonomi yang terjadi. Sejak mulai berdagang pada tahun 2025, ia konsisten menjual produknya dengan harga Rp 5.000 per porsi.

"Jualnya dari tahun ini, tahun 2025 juga masih sama, Rp 5.000," ujar Karsito.

Karsito menyebut bahwa kenaikan harga bahan pangan yang ekstrem berpotensi membuat para pedagang kecil berhenti beroperasi. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkan dampak teknis dari pelemahan mata uang tersebut.

"Ya terserah saja lah. Harga mahal ya tentunya ikut mahal, harga murah ya ikut murah," kata Karsito.

Artikel terkait

Rekomendasi