Tekanan Geopolitik dan Domestik Picu Pelemahan Rupiah ke Rp17.888

Tekanan Geopolitik dan Domestik Picu Pelemahan Rupiah ke Rp17.888

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan derasnya arus modal keluar dari pasar keuangan domestik memicu depresiasi nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp17.888 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (2/6).

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari kumparan.com pada Selasa (2/6) pukul 09.19 WIB, mata uang Garuda mencatat penurunan sebesar 83,50 poin atau melemah 0,47 persen dari posisi sebelumnya.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa penguatan dolar AS yang menekan rupiah terjadi seiring meningkatnya ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yg menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz," ujar Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures.

Faktor pendukung penguatan mata uang asing tersebut juga dipengaruhi oleh rilis data manufaktur AS yang hasilnya melampaui estimasi pasar. Lukman menambahkan bahwa kebijakan intervensi dari Bank Indonesia saat ini dinilai belum optimal sehingga diperlukan langkah yang lebih agresif.

"Menurut saya BI perlu agresif menaikkan suku bunga dalam pertemuan mendatang, ini adalah langkah terbaik untuk jangka pendek," ujar Lukman Leong.

Sementara itu, pengamat pasar Desmond Wira menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar ini terjadi akibat akumulasi sentimen global dan kondisi internal dalam negeri secara simultan.

"Faktor Global Konflik geopolitik Timur Tengah (AS-Iran), ketegangan dan potensi gangguan pasokan minyak (misalnya di Strait of Hormuz) mendorong harga minyak naik. Ini memperkuat Dolar AS sebagai safe-haven, meningkatkan permintaan USD, dan menekan mata uang emerging market seperti Rupiah," kata Desmond Wira, pengamat pasar.

Kondisi tersebut diperparah oleh tingkat inflasi di AS yang tetap tinggi serta proyeksi kebijakan suku bunga The Fed yang bertahan lama. Kenaikan harga energi global kemudian membebani Indonesia yang berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak.

"Harga energi tinggi, Indonesia sebagai net importer minyak mengalami peningkatan kebutuhan USD untuk impor, yang memperlebar defisit transaksi berjalan," ujarnya Desmond Wira.

Di sisi domestik, sentimen pasar negatif dipengaruhi oleh aksi jual oleh investor asing pasca-penyesuaian bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.

"Arus keluar modal asing (capital outflow), penyesuaian indeks MSCI (penurunan bobot saham Indonesia) memicu penjualan oleh investor asing. Ini menambah tekanan jual pada Rupiah," jelas Desmond Wira.

Selain faktor aliran modal tersebut, para pelaku pasar juga mengkhawatirkan proyeksi pelebaran defisit APBN, rencana belanja pemerintah yang besar, isu independensi Bank Indonesia, serta kenaikan permintaan dolar AS secara musiman.

"Kekhawatiran fiskal dan kebijakan, defisit APBN yang melebar, rencana belanja besar pemerintah, dan isu independensi Bank Indonesia," ujar Desmond Wira.

Artikel terkait

Rekomendasi