Perekonomian arus bawah di Indonesia menghadapi masa sulit pada pertengahan Mei 2026. Nilai tukar Rupiah yang merosot tajam berimbas langsung pada lonjakan biaya belanja rumah tangga dan pembengkakan modal usaha kecil di berbagai daerah, seperti dikutip dari Suara.
Mata uang Garuda terperosok hingga menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.668 per Dolar AS pada Senin (18/5/2026). Dampak penurunan nilai tukar ini menciptakan efek domino yang signifikan pada harga barang pokok di pasar.
Data Dinas Perdagangan Bojonegoro, Jawa Timur, mencatat kenaikan serentak pada mayoritas komoditas pangan utama. Harga daging ayam kampung melonjak drastis sebesar 14,46 persen menjadi Rp79.375 per kilogram, sementara cabai rawit merah menembus Rp73.125 per kilogram.
Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan Disdagkopum Bojonegoro, Yuri Nur Rahmawati, menjelaskan bahwa penguatan Dolar AS secara tidak langsung mengerek biaya produksi akibat ketergantungan pada bahan baku impor.
"Dolar yang menguat secara tidak langsung memengaruhi biaya produksi, terutama barang-barang yang bahan dasarnya masih impor, seperti pakan ternak, pupuk, tepung, hingga plastik kemasan," ungkap Yuri.
Fluktuasi kurs juga memicu lonjakan harga barang penunjang seperti kantong plastik hingga 100 persen di Pasar Gede Solo. Kondisi ini memaksa para pedagang menaikkan harga jual secara tipis demi menyiasati lesunya daya beli.
Maryani (53), salah satu pedagang di Pasar Gede Solo, mengeluhkan tingginya harga distributor yang membuat modal berdagang semakin membengkak pada Kamis (21/5/2026).
"Pastinya ada pengaruh besar. Harga-harga ikut naik, apalagi harga dari distributor naik," ujar Maryani.
Kenaikan harga plastik pembungkus turut membebani operasional harian karena banyak konsumen yang meminta kantong tambahan saat berbelanja.
"Kadang-kadang pembeli itu minta plastik dobel, sekarang beli telur setengah kilo sudah di plastik satu. Nanti minta kantong buat nyangking, plastiknya itu apa nggak Rp 500 sendiri," ungkapnya.
Daya beli yang merosot membuat nilai uang Rp50 ribu kini tidak lagi mampu mendapatkan barang belanjaan dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.
"Dulu Rp 50 ribu dapat beras 1 kilo, beli sayur sama lauknya, minyak atau gula. Kalau sekarang belinya mintanya sedikit-dikit, bawang merah jadi beli 1 ons. Bahkan bumbu masak kemasan yang biasanya satu renteng sekarang hanya satu atau dua kemasan saja," paparnya.
Keluhan serupa dialami Sry Ratna (33), warga Takalar, Sulawesi Selatan, yang mendapati uang belanja Rp250 ribu habis dalam hitungan hari. Sementara di Palembang, peternak ayam mulai mencemaskan harga pakan ternak yang ikut terkerek naik.
Sektor Industri Kecil Tertekan Fluktuasi Kedelai
Sektor kerajinan tahu di Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, terpukul nyata oleh kenaikan komoditas impor. Para pelaku usaha menghadapi dilema besar akibat pergerakan harga kedelai luar negeri.
Puryono (51), seorang perajin tahu, menyatakan bahwa operasional mereka sangat rentan terhadap kurs karena bergantung pada pasokan kedelai asal Amerika dan negara lain.
Harga kedelai yang semula berada di angka Rp9.800 per kilogram pada akhir 2025, kini melonjak ke level Rp10.850 dan terus menunjukkan tren kenaikan harian pada Jumat (22/5/2026).
"Itu jelas sangat berpengaruh sekali. Karena apa? Bahan baku yang kita gunakan itu kedelai impor. Tentunya dengan dollar naik maka otomatis harga bahan baku kedelai naik," terangnya.
Upaya menaikkan harga jual tahu berisiko membuat mereka kehilangan pelanggan, sedangkan mengecilkan ukuran produk dapat menurunkan tingkat kepuasan konsumen.
"Sampai saat ini belum bisa menaikan harga lagi, kita masih bertahan diharga sebelum dollar naik. Nanti kalau kenaikan dititik Rp 500 keatas, itu baru kita pertimbangkan," ucapnya pasrah.
Puryono menambahkan bahwa pasokan kedelai lokal belum mampu memenuhi kuantitas kebutuhan industri, meskipun memiliki kualitas yang lebih baik.
Kritik Atas Pandangan Ketahanan Ekonomi Desa
Pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto di Nganjuk pada Sabtu (16/5/2026) yang menyebut warga desa tidak terdampak langsung oleh pergerakan Dolar AS menuai gelombang kritik dari berbagai organisasi.
"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar. Yang pusing yang itu, yang suka keluar negeri," ujar Prabowo.
Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah menilai pandangan tersebut kurang tepat di tengah perjuangan masyarakat bawah menghadapi tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup sehari-hari.
Ketua Umum PP Aisyiyah, Salmah Orbayinah, memberikan penegasan di Yogyakarta pada Senin (18/5/2026) mengenai keterkaitan erat aktivitas pedesaan dengan pergerakan kurs global.
"Statement itu tidak pas di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit," tegas Salmah.
Mekanisme pasar menyebabkan harga barang pokok, energi, dan biaya sektor pertanian di tingkat desa ikut bergejolak akibat pengaruh tidak langsung dari mata uang asing.
"Walaupun orang desa tidak menggunakan dolar secara langsung, dampaknya tetap terasa sampai ke desa. Harga kebutuhan pokok, energi, hingga bahan pangan bisa ikut terpengaruh," ujarnya.
Pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar, Abdul Muttalib Hamid, menilai asumsi ketahanan desa terhadap pelemahan nilai tukar merupakan kekeliruan dalam teori ekonomi modern.
"Pelemahan rupiah di atas Rp17.600 per dolar AS bukan sekadar isu makro ekonomi, tetapi langsung menjalar ke hidup masyarakat bawah, terutama petani," jelas Abdul.
Ketika Rupiah melemah, harga komoditas impor seperti gandum, kedelai, pupuk, dan energi akan merangkak naik sehingga memicu inflasi di tingkat konsumen pedesaan.
"Warga desa memang tidak membeli dolar, tetapi mereka membeli bensin, pupuk, minyak goreng, pakan ternak dan kebutuhan lain yang harganya ikut terdorong naik," tegasnya.