Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka pada zona hijau dengan kenaikan 41,23 poin atau 0,60 persen ke level 6.946,85 pada Selasa pagi, 12 Mei 2026. Laju indeks domestik saat ini dipengaruhi oleh dinamika hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran serta penantian investor terhadap sejumlah data makroekonomi internasional.
Maximilianus Nico Demus selaku Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa kondisi pasar global masih diselimuti ketidakpastian akibat kebuntuan negosiasi antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini berdampak pada fluktuasi harga energi di pasar dunia.
"Bahkan, Amerika kembali memikirkan langkah selanjutnya, termasuk aksi militer terhadap Iran yang di mana hal ini tentu berpotensi kembali membuat harga minyak mengalami kenaikan dan membuat ketidakpastian kembali menyelimuti pasar," ujar Nico, dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Analis melihat adanya harapan baru pada rencana pertemuan antara perwakilan Amerika Serikat dan China yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 15 Mei 2026 mendatang. Pertemuan ini diharapkan mampu memperbaiki hubungan dagang kedua negara yang telah menegang sejak periode kepemimpinan Donald Trump.
Selain faktor geopolitik, investor sedang mencermati proyeksi kenaikan inflasi konsumen di Amerika Serikat dari 3,3 persen menjadi kisaran 3,5 hingga 3,8 persen. Data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) juga diperkirakan meningkat signifikan yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral.
"Kenaikan dari sisi produsen akan meningkatkan tekanan terhadap inflasi secara keseluruhan yang membuat The Fed berpotensi mengencangkan ikat pinggang," katanya.
Di Asia, perhatian pasar tertuju pada ketahanan ekonomi China yang memproyeksikan kenaikan retail sales menjadi 1,9-2 persen serta pertumbuhan produksi industri. Nico menilai peran China sebagai mitra dagang utama sangat krusial bagi stabilitas ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan global.
"Apalagi, China juga mulai menjalin kerja sama dengan berbagai mitra dagang baru, di mana Afrika dan Eropa menjadi kawasan dengan tujuan eksportir besar," ujarnya.
Sementara itu dari Jepang, data produk domestik bruto kuartal I 2026 diperkirakan tumbuh di angka 1,5 hingga 1,7 persen. Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif ketahanan ekonomi negara tersebut di tengah tren pelemahan nilai tukar yen yang masih berlangsung.
Beralih ke sentimen dalam negeri, kebijakan pemerintah yang belum mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) memberikan sinyal positif bagi pasar obligasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi pasar saat ini masih terkendali sehingga stabilisasi cukup menggunakan instrumen fiskal yang tersedia.
"Langkah stabilisasi menggunakan kas pemerintah dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar obligasi tanpa menimbulkan persepsi adanya kondisi darurat," katanya.
Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG sepanjang hari ini akan berada pada rentang level support 6.850 hingga resistance 7.000. Fokus pasar tetap pada rilis data ekonomi mingguan dari Amerika Serikat dan perkembangan yield obligasi pemerintah.