Seorang pemandu pendakian bernama Reza Selang menjalani pemeriksaan intensif oleh Polres Halmahera Utara setelah insiden erupsi Gunung Dukono yang menewaskan dua warga Singapura dan satu warga Indonesia pada Jumat, 8 Mei lalu. Penyelidikan kepolisian kini berfokus pada legalitas dan tanggung jawab penyelenggara pendakian tersebut.
Tragedi ini bermula saat rombongan yang terdiri dari sembilan warga asing dan lima warga lokal melakukan pendakian hingga ke area puncak. Dilansir dari Detik Travel, pemandu mengaku tidak melihat adanya aktivitas vulkanik yang mencurigakan melalui pemantauan udara sebelum letusan terjadi secara tiba-tiba.
"Sampai sekarang saya masih sangat terpukul," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon kepada BBC pada Senin (11/5) pagi.
Pemandu berusia 35 tahun itu menjelaskan bahwa rombongan tiba di Desa Mamuya pada Kamis (7/5) siang sebelum menginap di shelter pendakian. Keesokan paginya, tim mulai bergerak menuju kawah dan tiba di titik tertinggi dalam kondisi cuaca yang terlihat tenang tanpa kepulan asap.
"Saat saya pantau dengan drone tidak kelihatan aktivitas apa-apa di kawah. Asapnya pun enggak ada. Sangat tenang," ujarnya.
Reza yang saat itu berada di posisi lebih rendah untuk memantau keamanan rombongan menyaksikan langsung detik-detik gunung tersebut memuntahkan material vulkanik. Ia mencatat letusan susulan terjadi dengan sangat cepat setelah hembusan asap pertama.
"Di 07.40 saya sempat nge-drone dari jauh. Pas di 07.41 langsung gunungnya meletus," katanya.
Erupsi tersebut memaksa seluruh pendaki untuk segera menyelamatkan diri ke arah bawah. Namun, melalui kamera drone, Reza mendapati seorang pendaki asal Singapura bernama Shahin Muhrez bin Abdul Hamid tergeletak di dekat area kawah.
"Letusan pertama masih keluar asap. Sekian detik kemudian letusan susulan keluar dan itu keluar material [vulkanik] semuanya," ujarnya.
Dalam upaya penyelamatan, pendaki lain bernama Timothy Heng berusaha kembali ke puncak untuk menolong Shahin. Reza segera menyusul untuk membantu mengevakuasi korban di bawah ancaman hujan material panas.
"Begitu mereka berhamburan lari ke bawah, saya dekatkan drone untuk melihat apakah ada yang tertinggal atau enggak. Ternyata ada satu orang yang terkapar di atas, dekat puncak," katanya.
Kondisi semakin kritis ketika sebuah bongkahan batu besar meluncur dari kawah saat mereka sedang mencoba membawa tubuh korban turun. Timothy dilaporkan sempat mencoba melindungi rekannya sebelum batu tersebut menghantam mereka.
"Dia sudah lari turun. Tapi dia balik lagi karena tahu ada temannya," katanya.
Reza mengungkapkan bahwa ukuran material yang terlempar sangat besar sehingga menyebabkan dampak yang fatal bagi kedua korban yang tertimpa. Ia mengaku sempat tertegun sesaat sebelum berhasil menyelamatkan diri.
"Saya pegang kaki, Timo pegang tangannya. Jadi kita seret dia turun," ujar Reza.
Kekacauan di lokasi pendakian tersebut juga mengakibatkan hilangnya Angel Krishela Pradita, pendaki asal Indonesia yang jenazahnya baru ditemukan tim SAR pada Sabtu (9/5). Reza memberikan peringatan saat melihat batu meluncur ke arah posisi mereka.
"Batu itu sekitar dua meter lebarnya. Saya sudah teriak 'stone', tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin," katanya.
Meskipun menderita luka bakar pada bagian kaki, Reza tetap berupaya berada di lokasi guna membantu tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri dalam proses evakuasi jenazah. Ia menyatakan siap menghadapi proses hukum yang sedang berjalan di Polres Halmahera Utara.
"Kena semuanya, kepala, badan, seluruhnya, karena batunya besar," katanya.
Reza menyatakan penyesalan yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam perjalanan yang ia pimpin. Ia berharap dapat menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada pihak keluarga korban.
"Saya sempat nge-freeze. Saya melihat langsung bagaimana dua orang yang saya kenal selama perjalanan terhimpit batu," katanya.
Ia kini berstatus sebagai saksi dan dilarang meninggalkan wilayah Tobelo selama proses penyidikan berlangsung. Polisi juga memeriksa saksi lain berinisial JA yang diduga terlibat dalam promosi paket pendakian tersebut.
"Saya langsung mengabari grup mapala saya, grup keluarga saya," katanya.
Pihak kepolisian menegaskan komitmen untuk mengusut adanya unsur kelalaian dalam pengorganisasian pendakian ini. Tim penyidik terus menggali keterangan terkait perizinan dan standar keselamatan yang diterapkan saat membawa wisatawan.
"Gunung masih terus meletus, intervalnya sangat pendek, masih mengeluarkan material," kata Reza.
Reza mengaku sempat menginap di kantor polisi pada hari pertama setelah kejadian untuk memberikan keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Ia masih menunggu jadwal pemeriksaan lanjutan dari pihak penyidik Reskrim.
"Ini kejadian pertama yang saya alami dan saya merasa sangat bersalah kepada korban dan keluarga korban," katanya.
Saat ini, kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi termasuk porter dan pihak pengelola jasa pendakian. Penyelidikan ini bertujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan keamanan pendakian di gunung api aktif.
"Saya rasanya ingin ke sana, sujud di kaki orang tuanya korban. Saya ingin minta maaf," ujarnya.
Pihak berwenang mengimbau seluruh jasa pemandu untuk lebih waspada terhadap perubahan aktivitas gunung api. Status saksi yang disandang pemandu dan rekan setimnya saat ini masih bisa berubah seiring perkembangan bukti baru.
"Tentu saja banyak penyesalan. Seandainya kemarin kita enggak naik, seandainya kemarin saya enggak terima [pekerjaan ini], seandainya Dukono bukan tujuan terakhir," katanya.
Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, memberikan peringatan keras bahwa segala bentuk kelalaian yang berakibat fatal akan ditindak tegas sesuai hukum. Proses hukum ini mencakup seluruh rantai tanggung jawab mulai dari penanggung jawab program hingga tenaga lapangan.
"Dari rumah sakit tanpa jeda, kita langsung dioper lagi ke Polres, dimintai keterangan, BAP dan segala macam," katanya.
Polisi memastikan penyelidikan akan dilakukan secara tuntas untuk mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan.
"Konsekuensi hukum yang nanti terjadi, apapun itu harus saya terima, siap tidak siap," katanya.
Reza dan timnya kini diwajibkan untuk tetap bersiaga memenuhi panggilan kepolisian kapan pun diperlukan.
"Hari pertama saja saya diminta menginap di kantor polisi. Hari kedua sudah dilepas tapi dengan catatan jangan ke mana-mana. Untuk jadwal pemeriksaan saya masih mengambang. Katanya stand by saja," papar Reza.
Kapolres menegaskan proses hukum akan segera dimulai terhadap seluruh pihak terkait.
"Kami dari Polres akan mengusut tuntas terkait dcidentifiere-nya dari segi hukum, dari penanggung jawab, sampai dengan porter, itu semua akan diproses secara hukum. Kita akan mulai penyelidikan," ujar Erlichson.