Pemerintah Bentuk BUMN Ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia

Pemerintah Bentuk BUMN Ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia

Pemerintah secara resmi mendirikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang memegang mandat untuk mengelola ekspor berbagai sumber daya alam (SDA) strategis nasional.

Dikutip dari Detik Finance, komoditas seperti minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil), batu bara, hingga ferro alloy akan melewati DSI pada fase awal pengoperasiannya. Perusahaan ini telah menyandang status sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak Senin (25/5/2026).

Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa entitas baru ini bakal diarahkan sebagai perusahaan yang berorientasi pada pencarian profit.

Langkah pembentukan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap munculnya praktik manipulasi harga seperti under invoicing hingga transfer pricing dalam aktivitas ekspor komoditas SDA yang berpotensi merugikan keuangan negara.

"Danantara Sumberdaya Indonesia dahulunya adalah karena the issue of under invoicing, the potential value transfer. Ini kami sering dengar, saya pribadi pun sering dengar waktu dulu juga di industri," jelas Pandu dalam Investor Daily Roundtable di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Pandu yang pernah memimpin asosiasi pengusaha batu bara selama hampir satu dekade mengaku sangat memahami celah dan modus kecurangan harga yang kerap terjadi di lapangan.

"Saya kebetulan jadi ketua asosiasi batu bara kurang lebih hampir 10 tahun. Di situ saya tahu juga, banyak yang baik, ada juga yang bandel. Dan bandelnya waktu pertama kali saya di asosiasi itu bisa dibilang 40%, tapi sekarang lebih baik," sambung Pandu.

Struktur Korporasi dan Skema Bisnis

Pemerintah sempat mengkaji dua pilihan format institusi sebelum menetapkan keputusan final, yakni membentuk badan birokrasi biasa atau menyusun operator bisnis murni.

Opsi kedua akhirnya dipilih agar lembaga ini bergerak lincah sebagai entitas bisnis dengan posisi sejajar dengan Danantara Investment Management (DIM).

"Nah di dalam Danantara sendiri, it will be mindset-nya for profit. Balik kepada Danantara sebagai sovereign wealth fund. Memang ini tabungan buat generasi berikutnya. Jadi profit mentality itu tetap harus ada. Nah jadi minggu lalu DSI ini di bawah Danantara Investment Management, sekarang DSI ini sejajar" jelas Pandu.

Struktur kepemilikan saham emiten baru ini dikuasai oleh BPI Danantara sebesar 99 persen, sedangkan sisa 1 persen dipegang oleh BP BUMN.

"Ke depan, perusahaan pelat merah ini diproyeksikan berkembang menjadi agen bisnis yang adaptif dengan potensi perluasan usaha sesuai kompetensi sumber daya manusia yang dimiliki.

"Karena kebetulan di bawah Danantara, namanya DSI, ide awalnya memang menjadi suatu perusahaan dan perusahaan BUMN yang memang harus profit, for profit. Jadi awal-awalnya it becomes an agent, agent of business. Nantinya kalau ada pengembangan lain sesuai dengan skill set SDM yang ada," tutup Pandu.

Perekrutan Tenaga Ahli Skala Global

Meskipun mengemban tugas besar, perseroan terbatas ini tercatat baru mempekerjakan satu orang pegawai yang menduduki posisi pucuk pimpinan.

Luke Thomas Mahony ditunjuk menjadi Direktur Utama pertama dari BUMN ekspor ini di tengah akselerasi proses pembangunan struktur organisasi internal.

"Sebagai perusahaan baru dibentuk Senin minggu lalu, Senin kemarin baru menjadi persero BUMN, jadi cukup cepat. Kebetulan pegawainya baru satu, Luke. So, Luke is there. Saya terima kasih juga dia orang asing, jadi walaupun banyak yang WA dia, dia nggak bisa jawab juga WA itu," ujar Pandu.

Manajemen berencana menyusun tim kerja secara bertahap, meniru pola ekspansi institusi induknya yang berkembang dari 3 orang menjadi 450 personel dalam setahun.

"Kalau misalnya bapak ibu ingat, Danantara dimulai Februari dimulai dengan 3 orang. Akhir Maret dan April, 30 orang. Sekarang setahun kemudian 450 orang," ujar Pandu.

Sektor perdagangan dan pembiayaan komoditas internasional memerlukan kualifikasi keahlian yang sangat spesifik sehingga pencarian bakat akan dibuka luas hingga ke pasar global.

"Jadi dari sisi sumber daya manusia, kami juga rekrut dari global, bukan hanya di Indonesia, semuanya global. Seperti tadi saya sebut di batu bara hanya ada 2 ribu trader di dunia," sebut Pandu.

Selain menyaring tenaga profesional luar negeri, korporasi juga membuka peluang bagi talenta internal dari BUMN lain yang ingin mengembangkan kompetensi di bidang pembiayaan perdagangan.

"Tentu nanti akan ada juga dari BUMN yang akan kita coba rekrut juga human capital yang sudah ada itu untuk bisa belajar bareng. Contoh juga dari sisi financing, kalau financing ini sangat fokus kepada trade financing," beber Pandu.

Kebutuhan spesialis di segmen ini dinilai mendesak lantaran ketersediaan ahli domestik yang masih terbatas untuk menangani sistem pembiayaan komoditas lintas negara.

"Untuk trade financing specifically, most of the talent tuh tidak banyak di Indonesia, banyaknya di luar negeri. Ini juga kita harus bisa recruit to transfer knowledge of doing financing yang menyangkut komoditas," tutupnya menjelaskan.

Artikel terkait

Rekomendasi