Pemerintah bersama Bank Indonesia menilai penurunan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek dan faktor musiman. Kondisi tersebut ditegaskan tidak berkaitan dengan masalah fundamental ekonomi domestik.
Dilansir dari Suara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak menyikapi tekanan terhadap mata uang garuda secara berlebihan. Menurutnya, fondasi ekonomi nasional saat ini masih berada dalam kondisi yang aman.
“Nanti kita perbaiki (pelemahan Rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5).
Purbaya mengidentifikasi adanya kekhawatiran dari sebagian pihak yang menyamakan situasi saat ini dengan krisis keuangan tahun 1997–1998. Kendati demikian, ia memastikan kondisi riil saat ini sangat berbeda jauh dengan masa tersebut.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengutarakan pandangan yang senada terkait dinamika mata uang ini. Perry menjelaskan bahwa lonjakan keperkasaan dolar AS terhadap rupiah digerakkan oleh lonjakan permintaan musiman di dalam negeri.
“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang,” ujar Perry di Gedung DPR RI.
Bank sentral memproyeksikan tekanan terhadap pergerakan rupiah ini segera mereda memasuki paruh kedua tahun ini. Berdasarkan siklus tahunan, mata uang rupiah biasanya memperlihatkan tren pemulihan signifikan pada rentang bulan Juli hingga September.
“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” kata Perry.
Strategi Menjaga Likuiditas Pasar
Indikator historis tersebut menjadi basis bagi Bank Indonesia dalam mempertahankan stabilitas sektor keuangan domestik. Perry memastikan langkah intervensi lanjutan siap dieksekusi demi memperkokoh posisi mata uang rupiah jika situasi mendesak.
Otoritas moneter juga mengadopsi pembelajaran penting dari peristiwa krisis 1997–1998 silam. Pada era tersebut, fokus yang terlalu besar pada stabilisasi nilai tukar justru memicu terjadinya kekeringan likuiditas yang menekan perekonomian.
"Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow," tegas Perry.
Melalui perpaduan fundamental ekonomi yang kokoh serta prediksi meredanya siklus musiman, pemerintah dan bank sentral meyakini depresiasi rupiah tidak berjalan lama.