Pemerintah Siapkan DME dan CNG Gantikan LPG 3 Kilogram

Pemerintah Siapkan DME dan CNG Gantikan LPG 3 Kilogram

Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan proyek Dimethyl Ether (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram guna menekan ketergantungan impor. Langkah ini diambil karena volume impor LPG saat ini mencapai 7 juta ton per tahun dengan beban devisa negara berkisar Rp130 triliun hingga Rp140 triliun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penghematan devisa menjadi prioritas utama di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Dilansir dari Detik Finance, pemerintah juga harus menanggung subsidi sebesar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun untuk penyediaan LPG tersebut.

"Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun," ujar Bahlil, Rabu (6/5/2026).

Hilirisasi batu bara menjadi DME menjadi salah satu solusi utama yang mulai dijalankan dalam masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Proyek ini ditandai dengan groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dengan target kapasitas produksi 1,4 juta ton DME per tahun.

"Menurut pendapat saya ini cukup bersejarah dan sangat membanggakan yaitu groundbreaking hilirisasi tahap kedua, yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp 116 triliun meliputi lima proyek di sektor energi 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian," kata Prabowo.

Presiden menekankan bahwa penguatan fondasi ekonomi melalui hilirisasi merupakan kelanjutan dari program pemimpin-pemimpin negara sebelumnya. Pembangunan fasilitas ini diharapkan menjadi jalan bagi kebangkitan ekonomi nasional di berbagai bidang strategis.

"Kita lakukan di banyak bidang dalam tahun pertama pemerintahan yang saya pimpin yang kita lakukan adalah memperkuat pondasi yang sudah dilakukan oleh presiden-presiden terdahulu dari mulai presiden pertama sampai ke presiden ke-7," ujar Prabowo.

DME dipilih karena memiliki sifat kimia dan fisika yang mirip dengan LPG sehingga dapat menggunakan infrastruktur distribusi yang sudah tersedia. Berdasarkan data Kementerian ESDM, DME juga lebih ramah lingkungan karena mudah terurai di udara dan dapat meminimalisir emisi gas rumah kaca hingga 20 persen.

Selain DME, pemerintah sedang menguji coba penggunaan CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram agar lebih praktis bagi masyarakat. Bahlil menyebutkan teknologi ini sebelumnya telah sukses diterapkan pada tabung ukuran 12 kilogram dan 20 kilogram untuk sektor komersial seperti hotel dan restoran.

"Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilogran yang 20 kilogram tu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilogra.. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes. Gitu, ya," terang Bahlil.

Menteri ESDM memastikan bahwa aspek keterjangkauan harga akan tetap dijamin melalui skema subsidi bagi masyarakat kecil. Hal ini sejalan dengan kebijakan energi nasional untuk menjaga daya beli publik terhadap komoditas energi pengganti.

"Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya," ujar Bahlil.

Kajian awal menunjukkan bahwa harga CNG diperkirakan 30 persen lebih murah dibandingkan LPG karena bahan bakunya melimpah di dalam negeri. Efisiensi ini muncul dari pemotongan biaya transportasi impor karena sumber gas tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

"CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah," ujar Bahlil.

Keunggulan CNG lainnya adalah keberadaan industri pemrosesan yang sudah mapan di pasar domestik. Kondisi ini memungkinkan pemerintah untuk melakukan penghematan biaya logistik yang selama ini membebani harga jual LPG.

"Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi, tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover. Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya, jadi itu jauh lebih efisien," kata Bahlil.

Artikel terkait

Rekomendasi