Pemerintah Indonesia mempromosikan peluang investasi sektor hulu migas yang strategis dalam forum Indonesia Untapped and Frontier Resources di Houston, Amerika Serikat, pada 5 Mei 2026. Langkah ini bertujuan menarik minat investor global dan penyedia teknologi energi melalui perbaikan regulasi serta kepastian hukum.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Susilo, menyatakan bahwa pemerintah terus memperkuat fondasi investasi di tanah air. Penyiapan wilayah kerja migas yang kompetitif menjadi prioritas, termasuk mendorong kolaborasi pada proyek besar seperti Abadi Masela.
Data potensi energi nasional dipaparkan oleh Senior Manager - Oilfield Development SKK Migas, Wilson Pariangan. Dilansir dari Ekonomi, Indonesia memiliki 128 cekungan migas, namun saat ini baru 20 cekungan yang berproduksi, sementara 43 cekungan dalam tahap eksplorasi dan 65 lainnya belum tersentuh.
"Dengan potensi mencapai 2,7 miliar barel minyak dan 39,35 TCF gas, serta 158 blok migas yang tersedia, Indonesia menawarkan peluang investasi yang nyata dengan sistem yang semakin kompetitif dan ramah investor," ujar Wilson Pariangan, Senior Manager - Oilfield Development SKK Migas.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menekankan bahwa kondisi saat ini merupakan saat yang tepat bagi pelaku industri untuk masuk ke pasar Indonesia. Perusahaan mengeklaim telah memiliki rekam jejak eksekusi lapangan yang kuat dalam mengonversi potensi menjadi produksi.
"Indonesia adalah frontier energy opportunity yang belum sepenuhnya tergarap, dan saat ini adalah momentum terbaik bagi investor untuk masuk. Kami tidak hanya bicara potensi, tetapi juga eksekusi," tegas Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina.
Pencapaian eksplorasi Pertamina pada tahun 2025 menjadi bukti penguasaan teknologi dan data perusahaan. Dari 20 sumur eksplorasi yang dibor, delapan di antaranya berhasil menemukan cadangan baru melalui dukungan survei seismik 2D sepanjang 2.931 km dan 3D seluas 855 km².
"Dengan dukungan survei seismik 2.931 km (2D) dan 855 km² (3D), kami memastikan setiap langkah eksplorasi berbasis data yang kuat, sehingga memberikan tingkat keyakinan yang lebih tinggi bagi investor," lanjut Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina.
Selain eksplorasi wilayah baru, Pertamina memfokuskan peningkatan produksi pada aset eksisting seperti Blok Rokan. Penggunaan teknologi Chemical EOR, Thermal EOR, hingga program infill menjadi strategi utama untuk mengoptimalkan reservoir berkualitas rendah.
"Ini merupakan peluang low risk, high value bagi investor. Aset eksisting kami masih menyimpan potensi besar yang dapat dioptimalkan melalui penerapan teknologi," ujar Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina.
Kolaborasi dengan penyedia teknologi global, terutama dari Amerika Serikat, sangat diharapkan untuk menangani pengelolaan reservoir yang kompleks. Hal ini dianggap sebagai peluang besar untuk pertumbuhan bersama di sektor energi.
"Kami membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya bagi technology providers. Indonesia membutuhkan solusi teknologi mutakhir, baik untuk eksplorasi, peningkatan perolehan minyak, maupun pengelolaan reservoir kompleks. Ini adalah peluang besar untuk tumbuh bersama," kata Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina.
Sektor gas juga menawarkan integrasi infrastruktur antara Sumatera dan Jawa serta optimalisasi pasokan dari Indonesia Timur. Di sisi lain, Indonesia mulai mengembangkan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) serta potensi energi panas bumi yang mencapai 24 GW sebagai daya tarik investasi masa depan.