Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan langkah pemerintah untuk masuk ke pasar obligasi secara bertahap demi menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar Amerika Serikat pada Senin (18/5/2026).
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 17.645 per dollar Amerika Serikat atau mengalami penurunan sebesar 1,17 persen berdasarkan data Reuters, sebagaimana dilansir dari Nasional. Kendati terjadi depresiasi mata uang, pemerintah menegaskan bahwa indikator fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang aman.
Optimisme terhadap kekuatan fiskal dalam negeri tersebut disampaikan langsung oleh pihak Kementerian Keuangan dalam sebuah keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
"Enggak usah takut, fundamental ekonomi kita bagus, fikal kita bagus," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (18/5/2026).
Aktivitas ekonomi domestik tercatat mengalami akselerasi dengan pertumbuhan mencapai 5,6 persen pada triwulan pertama tahun ini. Penyerapan anggaran belanja masyarakat, investasi, sektor ekspor-impor, serta belanja pemerintah menjadi pilar utama yang menyokong angka pertumbuhan tersebut.
"Kalau kita lihat dengan pangsanya, sebenarnya kalau lihat dari 5,6 itu, mungkin 2,9 dari belanja konsumen, 1,7 dari investasi, 1,3 itu dari belanja pemerintah. Jumlahnya nanti ke arah 6 sana, ada juga export import ya. Jadi gitu caranya," sambung dia.
Indikator kekuatan ekonomi juga tecermin dari daya beli publik yang diklaim masih terjaga dengan sangat baik hingga saat ini.
"Yang men-drive dan memberi kontribusi menyumbang terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, artinya daya belinya masih cukup bagus. Jadi jangan khawatir," kata dia.
Reformasi kebijakan yang dieksekusi oleh kepala negara diklaim mampu memproteksi perekonomian domestik dari dampak guncangan pasar global. Lonjakan pertumbuhan ini dinilai sebagai hasil dari langkah antisigap sebelum terjadinya tekanan eksternal.
"Anda ingat, triwulan pertama kita tumbuh 5,6 (persen) ketika perekonomian global lagi guncang. Jadi itu suatu prestasi yang luar biasa karena kebijakan Bapak Presiden melakukan reformasi betul-betul dilakukan sebelum ada negative shock dari global. Jadi strategi pembangunannya amat baik dari Bapak Presiden," kata dia.
Respons cepat terhadap situasi terkini dilakukan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dengan mengumpulkan jajaran menteri koordinator, menteri teknis, hingga pimpinan bank sentral dalam sebuah rapat terbatas.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa pergerakan mata uang rupiah akan segera mengarah ke titik yang stabil pascapertemuan tersebut.
"Yakin stabil," kata Perry singkat saat meninggalkan Istana.
Rapat intensif yang berlangsung selama dua jam tersebut turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto membenarkan bahwa fokus utama dari pembahasan di dalam Istana adalah persoalan ekonomi nasional.
"Kebanyakan topiknya tentang ekonomi, ya. Mungkin Pak Menkeu sama Pak Airlangga," ungkap dia.
Menteri Keuangan kemudian meluruskan bahwa jalannya rapat tidak berfokus secara spesifik pada depresiasi rupiah, melainkan pada pemantauan kesehatan ekonomi dan strategi komunikasi ke pasar.
"Tidak soal rupiah. Rupiah cuma ditanya gimana kondisi ekonomi bagus, anggaran juga bagus enggak ada masalah, fondasi ekonomi betul-betul bagus. Cuma nanti sosialisasi sosialisasi lebih bagus ke pasar, ke investor juga seperti apa, gitu aja," beber dia.
Sebagai langkah konkret penanganan pasar, Kementerian Keuangan mengonfirmasi adanya aliran modal masuk dari investor asing seiring dengan intervensi harian yang dilakukan pemerintah.
"Kita udah masuk ke bond market bertahap, ya. Asing juga udah masuk juga jadi harusnya sih ke depan akan minggu-minggu ini akan lebih stabil. Saya akan masuk setiap hari bond market," kata dia.
Intervensi likuiditas yang dialokasikan oleh pemerintah ke dalam pasar surat utang negara tersebut menyentuh angka triliunan rupiah setiap harinya.
"Pengen tahu aja lah. Saya minta masuk 2 triliun setiap hari," ungkap dia.
Kebijakan penempatan dana ini dikategorikan sebagai bagian dari manajemen kas negara yang bertujuan untuk memicu sentimen positif di kalangan pelaku pasar.
"Itu kan hanya cash management aja, jadi enggak masalah. Kan uangnya enggak hilang. Cuman diputar aja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi," ucap Purbaya.
"Biasanya kalau sentimen positif di situ biasanya asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali," imbuh dia.