Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi Perkuat Rupiah di Level 17501

Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi Perkuat Rupiah di Level 17501

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana intervensi pasar obligasi melalui Bond Stabilization Fund mulai Rabu (13/5/2026) untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Langkah ini diambil setelah mata uang Indonesia menyentuh level Rp17.501 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026).

Pelemahan Rupiah terpantau mencapai 87 poin atau merosot sebesar 0,50 persen dari penutupan sebelumnya berdasarkan data Bloomberg. Dilansir dari Suara, pemerintah menyerahkan kendali utama stabilitas moneter kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas yang berwenang di sektor tersebut.

"Anda mesti tanya bank sentral, jangan tanya saya. Tugas bank sentral hanya satu kan, menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, bank sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik," kata Purbaya, Menteri Keuangan di Kantor Kemenkeu, Jakarta.

Kementerian Keuangan akan aktif memberikan dukungan stabilitas melalui mekanisme pasar surat utang negara guna meminimalisir pelarian modal asing. Purbaya menjadwalkan aksi pasar ini segera dilakukan demi menjaga keseimbangan nilai tukar di pasar keuangan.

"Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market. Itu yang Bond Stabilization Fund kan," lanjut Purbaya, Menteri Keuangan.

Meskipun kurs saat ini telah melampaui asumsi awal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp16.500 per dolar AS, pemerintah memastikan kondisi fiskal tetap terkendali. Alokasi subsidi dalam anggaran diklaim tidak akan terganggu secara signifikan oleh fluktuasi harga dolar saat ini.

"Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas asumsi APBN Rupiahnya. Jadi enggak serendah mungkin tapi di atas itu enggak jauh sama sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman," papar Purbaya, Menteri Keuangan.

Upaya intervensi pada pasar obligasi ini bertujuan untuk menekan kenaikan imbal hasil atau yield agar tetap kompetitif bagi investor. Hal ini dipandang krusial untuk mencegah terjadinya pelepasan aset oleh pihak asing yang dapat memperburuk posisi Rupiah.

"Kita masih banyak uang nganggur. Kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss. Dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asingnya enggak keluar, atau masuk malah kalau yield-nya membaik. Sehingga Rupiah akan menguat," jelas Purbaya, Menteri Keuangan.

Pendanaan untuk stabilisasi harga obligasi ini bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan akan melibatkan lembaga di bawah Kementerian Keuangan. Koordinasi dengan bank sentral terus dilakukan untuk memastikan efektivitas kebijakan tersebut di lapangan.

"Nanti kerjanya juga pasti koordinasi dengan barang sentral. Tapi dananya ada. Kalau fund betulan kan desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain (Kementerian) Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Keuangan. Itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu jadi bukan SAL saja," kata Purbaya, Menteri Keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi