Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan resmi meluncurkan instrumen Surat Berharga Negara ritel terbaru seri Sukuk Tabungan ST016 pada Jumat, 8 Mei 2026. Produk investasi berbasis syariah ini menawarkan kupon minimal mulai dari 6,05 persen hingga 6,25 persen per tahun.
Masa penawaran instrumen ini dijadwalkan berlangsung hingga 3 Juni 2026 pukul 12.00 WIB. Pemerintah menyediakan dua pilihan tenor bagi masyarakat, yakni ST016-T2 dengan jangka waktu dua tahun dan ST016-T4 yang memiliki jangka waktu empat tahun dengan batas maksimal pembelian mencapai Rp10 miliar.
Data dari mitra distribusi SBN Ritel, Bibit dan Bareksa, menunjukkan bahwa ST016 menggunakan skema imbal hasil floating with floor atau mengambang dengan batas minimal. Imbal hasil ini akan mengikuti pergerakan BI Rate namun tidak akan turun melampaui level dasar yang telah ditetapkan saat peluncuran.
| Nilai Investasi | ST016-T2 Neto/Bln | ST016-T4 Neto/Bln | Deposito Neto/Bln* |
|---|---|---|---|
| Rp1.000.000 | Rp4.538 | Rp4.687 | Rp2.333 |
| Rp5.000.000 | Rp22.689 | Rp23.436 | Rp11.667 |
| Rp10.000.000 | Rp45.378 | Rp46.872 | Rp23.333 |
| Rp20.000.000 | Rp90.756 | Rp93.744 | Rp46.667 |
| Rp50.000.000 | Rp226.890 | Rp234.360 | Rp11.667 |
| Rp100.000.000 | Rp453.780 | Rp468.720 | Rp233.333 |
| Rp250.000.000 | Rp1.134.450 | Rp1.171.800 | Rp583.333 |
| Rp500.000.000 | Rp2.268.900 | Rp2.343.600 | Rp1.166.667 |
| Rp1.000.000.000 | Rp4.537.800 | Rp4.687.200 | Rp2.333.333 |
| Rp2.000.000.000 | Rp9.075.600 | Rp9.374.400 | Rp4.666.667 |
| Rp5.000.000.000 | Rp22.689.000 | Rp23.436.000 | Rp11.666.667 |
| Rp10.000.000.000 | - | Rp46.872.000 | Rp23.333.333 |
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto, memberikan pandangan mengenai potensi keuntungan dari seri terbaru ini. Ia membandingkan ekspektasi yield dengan seri sebelumnya yang telah beredar di pasar modal.
”Walaupun dia lebih pendek tenornya [dibandingkan SR], tapi paling tidak secara kupon, menurut saya sih harusnya lebih besar daripada SR kemarin,” kata Ramdhan kepada Bisnis.com.
Ramdhan menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil di atas level 6 persen akan menjadi daya tarik utama bagi nasabah ritel. Menurutnya, kelompok investor ini lebih sensitif terhadap besaran bunga yang ditawarkan dibandingkan gejolak pasar global.
”Misalnya yang kemarin 5,9%, kalau sekarang bisa dapat di atas 6% kan lebih menarik. Dan likuiditas di pasar ritel ini kan masih cukup baik,” ujar Ramdhan.
Analisis pasar memprediksi target penjualan sebesar Rp15 triliun merupakan angka yang realistis untuk dicapai. Hal ini didorong oleh adanya instrumen ST012-T2 yang akan jatuh tempo pada 10 Mei 2026 sehingga membuka peluang reinvestasi besar.
”Ya realistis, apalagi dengan suku bunga yang harusnya naik ya, rateonya ini. Apalagi nanti masa penawarannya juga panjang, ini akan menjadi pilihan reinvestasi bagi masyarakat,” kata Ramdhan.
Kementerian Keuangan menetapkan setelmen ST016 akan dilakukan pada 10 Juni 2026. Para investor dijadwalkan menerima pembayaran kupon pertama pada 10 Juli 2026 mendatang.