Pemerintah tengah memproses kebijakan baru untuk menurunkan potongan tarif aplikator ojek online menjadi 8 persen di Jakarta pada Mei 2026. Langkah ini diambil menyusul arahan Presiden Prabowo Subianto guna meningkatkan kesejahteraan pengemudi di lapangan.
Kementerian Ketenagakerjaan melaporkan bahwa komunikasi intensif dengan perusahaan aplikasi besar telah dimulai untuk membahas teknis kebijakan tersebut. Regulasi ini bertujuan untuk memberikan pembagian hasil yang lebih adil bagi para mitra pengemudi.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menjelaskan bahwa pihak perusahaan pada dasarnya sudah memahami rencana pemangkasan ini. Namun, pemanggilan resmi untuk pembahasan mendalam akan dilakukan dalam waktu dekat sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Ini akan segera kita panggil, karena Perpresnya ini sendiri kan baru keluar kemarin, dan insyaallah kita akan sesuai dengan arahan presiden, 8% pemotongan," katanya di Plaza Bpjamsostek, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2026).
Afriansyah menargetkan implementasi skema potongan rendah ini bisa segera berjalan. Pemerintah memproyeksikan aturan baru tersebut mulai berlaku pada pertengahan tahun ini.
"Mudah-mudahan bulan Juni," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan ketidaksetujuannya terhadap besaran potongan saat ini yang mencapai 20 persen. Penegasan tersebut disampaikan Kepala Negara saat menghadiri perayaan Hari Buruh Internasional di Jakarta Pusat.
"Ojol kerja keras, mempertaruhkan jiwanya setiap hari. Ojol aplikator perusahaan minta disetor 20%. Bagaimana ojol setuju 20%? Bagaimana 15%? Berapa?? 10%, kalian minta 10%? Saya katakan di sini saya tidak setuju 10%," tegas Prabowo di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat (1/5/2026).
Presiden menekankan bahwa pengelola aplikasi tidak boleh mengambil keuntungan terlalu besar di atas keringat para pekerja. Ia memberikan peringatan keras kepada perusahaan yang tidak bersedia mengikuti aturan baru tersebut.
"Harus di bawah 10%. Enak aje, lu yang keringat dia yang dapet duit sorry aja. Kalau nggak mau ikut kita nggak usah berusaha di Indonesia," sambung Prabowo.