Langkah penguatan ketahanan pangan nasional terus dipacu pemerintah di tengah dinamika krisis global yang mengganggu rantai pasok internasional. Seperti diberitakan oleh Money, strategi ini mencakup optimalisasi penyerapan gabah, perlindungan petani, serta peningkatan cadangan pangan pemerintah.
Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjamin kebutuhan masyarakat dalam berbagai kondisi. Upaya nyata dilakukan dengan memperbesar cadangan pangan serta menjaga stabilitas pasokan dan harga beras domestik.
“Indonesia berhasil mencatat peningkatan produksi beras secara signifikan sepanjang 2025. Produksi beras nasional tercatat mencapai 34,6 juta ton atau meningkat sekitar 4 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar 30,6 juta ton,” kata Sudaryono dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Parlemen, Selasa (19/5/2026).
Menurut Sudaryono, capaian ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memperkuat fondasi swasembada pangan dalam periode yang relatif singkat.
“Indonesia sudah mencapai swasembada pangan dalam waktu satu tahun dengan produksi beras 2025,” katanya.
Kendati menunjukkan tren positif, pemerintah tetap mewaspadai potensi ancaman musim kemarau panjang. Fenomena yang dikenal sebagai El Nino Godzilla ini diprediksi melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau tahun ini sudah dimulai sejak April di wilayah Nusa Tenggara. Dampaknya diperkirakan meluas ke daerah lain dengan puncak kemarau pada Agustus 2026.
Penguatan cadangan pangan nasional ini menjadi instrumen krusial untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras. Melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026, Perum Bulog ditargetkan menyerap gabah setara beras sebanyak 4 juta ton dengan harga pembelian gabah kering panen (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Hingga 18 Mei 2026, realisasi serapan beras oleh pemerintah tercatat telah menyentuh angka 2,8 juta ton, sehingga masih menyisakan kekurangan sekitar 1,2 juta ton dari target.
“Stok total beras pemerintah pada 2025 hingga 18 Mei mencapai 5,37 juta ton dan ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia,” kata Sudaryono.
Pihaknya tetap optimistis target penyerapan gabah dan beras sepanjang 2026 dapat terpenuhi. Hal ini didukung oleh potensi panen nasional yang dinilai masih cukup tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Kementerian Pertanian mencatat potensi luas panen pada Mei 2026 mencapai sekitar 929.000 hektar yang setara dengan 2,75 juta ton beras. Sementara untuk Juni 2026, luas panen diperkirakan berada di angka 841.000 hektar dengan potensi produksi sekitar 2,47 juta ton beras.
Pada periode Januari-Juni 2026, pemerintah membidik target serapan gabah dan beras sebesar 3,3 juta ton. Angka ini mencerminkan kenaikan 25,54 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 2,65 juta ton.
Untuk periode Juli-Desember 2026, target serapan ditetapkan sebesar 670.000 ton. Jumlah tersebut meningkat sekitar 24,16 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Di tingkat petani, rata-rata harga gabah kering panen saat ini berada di angka Rp 6.815 per kilogram. Nominal tersebut sekitar 4,85 persen lebih tinggi di atas HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Seiring meningkatnya stok beras nasional, pemerintah juga berfokus pada pengelolaan kualitas cadangan pangan. Guna menekan potensi penyusutan dan kerusakan komoditas, pemerintah menetapkan 100 titik Infrastruktur Pascapanen (IPP) yang dikelola oleh Bulog.
“Ini dilakukan untuk memastikan cadangan beras pemerintah tetap berkualitas dan siap digunakan untuk menjaga stabilitas pangan nasional,” tegas Sudaryono.