Pemerintah Perkuat Currency Swap Jaga Stabilitas Rupiah dari Tekanan Dolar

Pemerintah Perkuat Currency Swap Jaga Stabilitas Rupiah dari Tekanan Dolar

Pemerintah Indonesia bersama Bank Indonesia memperkuat kerja sama pertukaran mata uang atau currency swap dengan China, Jepang, dan Korea Selatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah mitigasi terhadap tekanan global ini dikonfirmasi di Jakarta pada Selasa (5/5/2026) sebagai respons atas penguatan dolar Amerika Serikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa diversifikasi instrumen pembiayaan negara menjadi bagian integral dari strategi pemerintah. Upaya ini dilakukan guna menekan ketergantungan terhadap mata uang dolar AS di tengah ketegangan geopolitik dan fluktuasi ekonomi global, sebagaimana dilansir dari Suara.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lain,” kata Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Selain pertukaran mata uang, pemerintah tengah menyiapkan penerbitan surat berharga dalam berbagai mata uang asing untuk memperkuat likuiditas domestik. Strategi ini dirancang untuk memastikan komposisi utang negara tetap terjaga dari risiko depresiasi rupiah yang signifikan.

“Ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China, ataupun dari Yen (Jepang) itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” ujarnya Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Data pasar menunjukkan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 11 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.405 per dolar AS pada Selasa pagi. Penurunan ini terjadi dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.394 per dolar AS.

“Berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” ungkap Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Airlangga memaparkan bahwa tingginya permintaan dolar AS pada kuartal kedua 2026 turut dipengaruhi oleh faktor musiman domestik. Kebutuhan dana untuk ibadah haji serta siklus pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing menjadi pemicu utama meningkatnya permintaan valuta asing.

"Biasanya juga pada saat ibadah Haji, dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap Dolar AS tinggi," tutur Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Kondisi eksternal semakin menantang akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong para investor global untuk mengalihkan aset mereka ke bentuk yang lebih aman atau safe haven, yang secara otomatis memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang.

Artikel terkait

Rekomendasi