Pemerintah Sasar Diaspora Melalui Penawaran Sukuk Tabungan Seri ST016

Pemerintah Sasar Diaspora Melalui Penawaran Sukuk Tabungan Seri ST016

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran instrumen investasi syariah Sukuk Tabungan seri ST016 mulai Jumat, 8 Mei 2026. Produk Surat Berharga Negara (SBN) Ritel ketiga tahun ini menyasar investor domestik hingga diaspora dengan nilai pemesanan minimal Rp1 juta.

Penerbitan ST016 diprediksi akan kembali mencatatkan permintaan yang melampaui kuota sebagaimana tren sejak 2016. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, karakteristik imbal hasil mengambang dengan batas minimal menjadi daya tarik utama bagi para pemodal.

Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Murniati Mukhlisin memberikan anjuran mengenai alokasi pendapatan bulanan untuk menjaga kesehatan finansial keluarga melalui investasi rutin.

"Minimal 10 persen pendapatan bulanan dialokasikan untuk investasi. Kalau tidak ada cicilan utang bisa sampai 40 persen," ujar Murniati Mukhlisin, Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia.

Murniati menjelaskan bahwa instrumen ini merupakan pilihan aman bagi keluarga muda karena seluruh modalnya dijamin oleh negara. Ia menilai kebiasaan menyisihkan dana sangat krusial untuk menghadapi berbagai profil risiko di masa depan.

Direktur Pembiayaan Syariah Kemenkeu Deni Ridwan mengungkapkan bahwa digitalisasi sistem telah mempermudah akses investasi dari mana saja, termasuk bagi warga negara yang berada di mancanegara.

"Investasi bisa dimulai dari Rp1 juta melalui perangkat pribadi, termasuk bagi diaspora di luar negeri," kata Deni Ridwan, Direktur Pembiayaan Syariah Kemenkeu.

Deni menambahkan bahwa selain kemudahan akses, ST016 menawarkan keunggulan berupa tarif pajak yang lebih rendah jika dibandingkan dengan produk deposito perbankan konvensional. Pemerintah berharap instrumen ini menjadi sarana kontribusi nyata masyarakat dalam pembangunan nasional.

"Kami mengajak masyarakat, khususnya diaspora, untuk mulai berinvestasi secara bertahap sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam pembangunan nasional sekaligus membangun kemandirian finansial di masa depan," ujar Deni Ridwan.

Direktur Utama Bank Syariah Matahari Muhammad Iman Sastra Mihajat menyatakan dukungan keamanan modal investor diperkuat oleh peringkat kredit tertinggi di skala nasional. Saat ini, terdapat tren peningkatan partisipasi dari kelompok usia muda dalam kepemilikan aset negara.

"Sukuk negara itu rating-nya sudah paling atas. Sangat aman karena dijamin negara, jadi kemungkinan uang tidak kembali itu sangat kecil," ujar Muhammad Iman Sastra Mihajat, Direktur Utama Bank Syariah Matahari.

Iman memandang imbal hasil yang kompetitif tetap menjadi magnet bagi investor meskipun fokus utamanya adalah perencanaan keuangan jangka panjang. Sosialisasi terus dilakukan untuk mendekatkan produk syariah kepada masyarakat luas.

"Saya melihat sukuk sebagai salah satu investasi paling aman. Memang return-nya tidak terlalu tinggi, tetapi rata-rata cukup baik. Pajaknya juga rendah," katanya.

Peningkatan kesadaran finansial ini menurut Iman dibuktikan dengan besarnya komposisi pemodal dari generasi baru. Dukungan komunitas internasional juga dinilai krusial bagi penguatan posisi ekonomi syariah Indonesia.

"Mayoritas investor sukuk justru berasal dari generasi Z dan milenial," ujarnya.

Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia Harri Gemilang memberikan testimoni mengenai prestise dan nilai tambah bagi warga Indonesia yang bermukim di luar negeri dalam memiliki aset negara.

"Bagi diaspora, memiliki sukuk negara itu seperti naik kelas. Jadi bukan hanya bicara soal tenor dan kupon, tetapi juga soal masa depan keluarga," kata Harri Gemilang, Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia.

Sekretaris Jenderal IAEI Sutan Emir Hidayat menyebutkan potensi remitansi diaspora yang mencapai 850 miliar dolar AS per tahun dapat menjadi pendorong ekonomi yang signifikan. Integrasi teknologi digital menjadi jembatan utama untuk mengoptimalkan kapasitas finansial tersebut.

"With kemudahan akses digital, kami mendorong diaspora untuk mulai berinvestasi dari diri sendiri secara konsisten, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas global agar ekonomi syariah Indonesia mampu tampil sebagai kekuatan yang lebih kompetitif di tingkat dunia," ujar Sutan Emir Hidayat, Sekretaris Jenderal IAEI.

Artikel terkait

Rekomendasi