Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyiapkan langkah strategis berupa pertukaran mata uang lokal atau swap currency untuk mengatasi tekanan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp17.423 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5/2026).
Langkah ini diambil pemerintah bersama Bank Indonesia guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS di tengah eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah. Berdasarkan data historis, posisi nilai tukar saat ini menempatkan rupiah pada level terlemah sepanjang masa terhadap mata uang Paman Sam.
Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa lonjakan permintaan dolar AS pada kuartal kedua dipicu oleh kebutuhan musiman dan kewajiban korporasi. Selain faktor global, kebutuhan valuta asing meningkat signifikan untuk keperluan ibadah haji dan pembagian dividen perusahaan kepada investor luar negeri.
"Biasanya juga pada saat ibadah haji permintaan terhadap dolar meningkat. Jadi nanti kita juga akan memonitor kebutuhan tersebut, dan biasanya di kuartal kedua juga ada pembayaran dividen. Jadi permintaan terhadap dolar tinggi," kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Sebagai bentuk mitigasi jangka panjang, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara mitra dagang utama untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi internasional. Fokus utama saat ini tertuju pada penguatan cadangan dan pertukaran nilai dengan negara-negara di kawasan Asia.
"Tetapi kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea, dan yang lain," ujar Airlangga.
Pemerintah juga berencana mengatur ulang komposisi pembiayaan negara guna menjaga stabilitas fiskal dari guncangan kurs. Penggunaan instrumen surat berharga dalam denominasi mata uang non-dolar menjadi salah satu opsi yang tengah dimatangkan.
"Sehingga diharapkan ke depan kita akan terus mempersiapkan komposisi terkait tingkat utang dan surat berharga yang bisa kita terbitkan, yang sifatnya seperti dari China ataupun dalam yen untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS," sambung Airlangga.