Pemerintah Indonesia tengah mematangkan rencana pengalihan Liquefied Petroleum Gas (LPG) menjadi Compressed Natural Gas (CNG) untuk sektor rumah tangga. Langkah strategis ini dilansir dari Nasional diproyeksikan mampu mengurangi volume impor sekaligus memotong pengeluaran subsidi energi secara signifikan.
Penghematan anggaran negara tersebut diperoleh berkat optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik yang ketersediaannya melimpah di dalam negeri. Efisiensi ini diharapkan dapat memperbaiki postur anggaran pendapatan dan belanja negara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman menjelaskan bahwa kalkulasi bersama Menteri ESDM menunjukkan potensi penurunan nilai subsidi yang cukup besar karena penggunaan komoditas lokal pada hari Senin (18/5/2026).
"Setelah dihitung-hitung tadi Pak Menteri menyampaikan sebenarnya masih tetap diperlukan adanya subsidi, tetapi subsidi itu berkurang tadi bisa 30-40% karena proses efisiennya kita CNG ini yang punya kita sendiri dibanding dengan kita harus impor," ujar Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas).
Tingginya pengeluaran anggaran selama ini disebabkan oleh fluktuasi harga LPG global yang mahal serta kompleksitas rantai pasoknya. Di sisi lain, pemanfaatan gas bumi dalam negeri masih menghadapi tantangan pada biaya penyediaan infrastruktur penunjang.
"Jadi LPG itu kan kita impor harganya mahal kemudian distribusinya, prosesnya kan butuh cost juga. Gas kita punya banyak, melimpah, harganya murah, tapi tabungnya yang mahal karena dia materialnya khusus," jelas Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas).
Kementerian ESDM kini sedang menyusun mekanisme teknis agar pemanfaatan sisa kuota dari hasil penghematan tersebut dapat berjalan secara tepat sasaran.
"Tinggal 40-30% tadi kan mau dibagi kemana saja mau dipotong subsidi-nya atau dikurangi harganya, kan nanti itu teknis pelaksanaannya saja," tutur Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas).
Pemerintah juga memastikan bahwa seluruh sarana dan prasarana distribusi LPG yang saat ini sudah berjalan akan diintegrasikan ke dalam pola bisnis yang baru.
"Ya kita tetap berkomunikasi dengan semua stakeholders termasuk Pak Mentri juga yang mengamanahkan ke kami untuk mengkaji skema bisnisnya, misalnya juga yang sudah ada di LPG saat ini bisa jadi pola-polanya mirip-mirip juga seperti itu cuman difungsikannya yang tadinya LPG sekarang CNG. (Infrastruktur LPG) akan tetap termanfaatkan, itu salah satu pola yang sedang ada kita rumuskan seperti itu," beber Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas).
Formulasi harga jual CNG di tingkat konsumen nantinya dipastikan tidak akan memberatkan masyarakat demi mempertahankan tingkat konsumsi rumah tangga.
"Jadi memang ide awalnya itu harus sama-sama LPG 3 kilo gak boleh berbeda nanti kalau berbeda ibu-ibunya merasa keberatan nanti," pungkas Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas).