Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan berencana menerbitkan instrumen utang Panda Bond di pasar China pada semester II 2026 sebagai langkah diversifikasi sumber pembiayaan global. Kebijakan ini diambil guna memperluas basis investor dan mengurangi ketergantungan pada mata uang dollar AS di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Dilansir dari Money, PT Mandiri Sekuritas memberikan catatan terkait potensi risiko nilai tukar yang muncul dari penerbitan obligasi dalam mata uang yuan tersebut. Strategi mitigasi melalui lindung nilai atau hedging menjadi faktor krusial yang perlu disiapkan pemerintah dalam mengelola volatilitas kurs.
Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan bahwa ketergantungan pada mata uang asing di luar pasar domestik secara inheren membawa risiko nilai tukar tertentu.
"Risikonya tentu, kalau kita selalu mau menerbitkan dalam bentuk mata uang di luar domestik ya ada risiko current series," ujarnya saat paparan Bank Mandiri Macro and Market Brief Q2-2026, Senin (11/5/2026).
Handy menambahkan bahwa besarnya volume perdagangan antara Indonesia dan China dapat bertindak sebagai penyeimbang risiko secara alami bagi pemerintah.
"Tapi kalau kita melihat Indonesia cukup banyak counterpart dengan China, mudah-mudahan ada natural hedging yang ini bisa memitigasi risiko tersebut," imbuhnya.
Diversifikasi instrumen ini juga dinilai penting untuk mencegah fenomena penyerapan likuiditas berlebih di pasar dalam negeri yang dapat mengganggu ketersediaan dana sektor swasta.
"Tahun 2026 ini memang challenge buat pemerintah untuk issue obligasi secara close cukup besar. Jadi salah satu cara untuk memitigasi risiko crowding out adalah mencoba menerbitkan porsi global bonds yang lebih besar," jelasnya.
Pergeseran fokus ke pasar China menandai perubahan strategi dari yang sebelumnya hanya bertumpu pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Jepang.
"Kalau dulu selalu bergantung dollar AS, euro, Japanese yen. Sekarang kita sudah punya Australia, panda, dimsum. Ini salah satu strategi diversifikasi," kata dia.
Secara historis, instrumen ini menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan surat utang berbasis dollar AS sehingga dapat menekan beban bunga pemerintah.
"Kalau kita lihat historicalnya, sebenarnya nggak cuma Indonesia yang memanfaatkan kondisi ini. Kita lihat beberapa negara juga melakukan ini dan trennya memang terus mengalami peningkatan issuance dari Panda Bonds ini. Karena kalau kita lihat secara yield, memang jauh lebih murah dibandingkan dengan US Treasury yang saat ini kalau kita lihat perbandingan yieldnya," tuturnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan arahan pimpinan negara untuk memperluas jangkauan sumber dana internasional.
"Jadi gini, salah satu perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto adalah melakukan diversifikasi sumber pembiayaan global,” kata Purbaya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Purbaya mengonfirmasi bahwa otoritas keuangan China telah memberikan sinyal positif terhadap rencana Indonesia untuk masuk ke pasar keuangan mereka.
"Antara lain kita bilang juga kita ingin menerbitkan Panda Bond di sana, dia amat setuju dan hubungannya di China itu murah, cuma 2,3 persen, jadi kita bisa menekan cost of capital kita," ujar Purbaya.
Saat ini, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko tengah mematangkan teknis penerbitan surat utang renminbi tersebut untuk mencapai target peluncuran pada paruh kedua tahun ini.