Pemerintah Kota Jakarta Timur melakukan perbaikan cepat pada lubang jalan di kawasan Underpass Bassura, Jalan Jenderal Basuki Rachmat, Jatinegara, setelah kondisi infrastruktur tersebut viral karena dinilai membahayakan keselamatan para pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.
Aksi penanganan ini dilakukan menyusul unggahan video di media sosial pada 23 Februari 2026 yang menunjukkan kerusakan jalan cukup dalam di lokasi tersebut, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Dalam rekaman itu, seorang warga sempat memberikan tanda peringatan menggunakan cat semprot di sekitar titik kerusakan.
"Dalam ini lubangnya. motor fix jatuh ini, gede banget lubangnya," kata seorang pria dalam rekaman video itu.
Perekam video tersebut juga memberikan saran teknis mengenai material yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki kerusakan jalan di area tersebut agar tidak kembali rusak dalam waktu singkat.
"Nih (lubang jalan) yang kayak begini tidak bisa hotmix, harus pake beton juga. karena kalau tidak bakal pasti rusak lagi," ujarnya.
Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto, mengonfirmasi pada Senin (4/5/2026) bahwa koordinasi telah dilakukan dengan instansi terkait untuk segera menutup lubang di Underpass Bassura tersebut.
"Sudah sy koordinasikan dengan Sudin Bina Marga. Itu sudah diperbaiki," kata Kusmanto, Wakil Wali Kota Jakarta Timur.
Meski demikian, data di lapangan menunjukkan adanya perbedaan material pada hasil perbaikan, di mana sebagian titik menggunakan aspal dan sisi lainnya tetap menggunakan perkerasan beton. Fenomena tambal sulam jalan ini juga dilaporkan terjadi secara berulang di kawasan Senen, Matraman, hingga Pancoran.
"Saya kan tiap hari keliling narik di sini (Senen-Matraman), jadi hafal tuh titik-titiknya. Baru ditambal keliatan hitam mulus, eh dua minggu kemudian udah mulai pecah-pecah lagi," kata Irfan (34), pengemudi ojek online.
Keluhan mengenai ketahanan hasil perbaikan jalan juga disampaikan oleh warga lain yang sering melintasi jalan-jalan utama di wilayah Jakarta Selatan.
"Soalnya cepet banget rusaknya. Enggak lama setelah ditambal biasanya udah mulai pinggirannya ngelupas," ucap Toni (41), warga.
Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, menjelaskan bahwa faktor cuaca menjadi kendala utama dalam menjaga kondisi perkerasan aspal agar tetap awet.
"Kondisi cuaca ekstrem, khususnya curah hujan yang tinggi, sangat memengaruhi jalan dengan perkerasan lentur (aspal)," kata Siti Dinarwenny, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta.
Akademisi dari Universitas Pakuan, Umar Mansyur, memberikan tinjauan bahwa kebijakan rekonstruksi total seharusnya diambil jika biaya pemeliharaan rutin sudah dianggap tidak lagi efisien.
"Rekonstruksi total jika kerusakan jalan sudah parah dan luas, biaya tambal sulam sudah melebihi 50 persen dari biaya rekonstruksi total, jalan sudah tidak memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan," ujar Umar Mansyur, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Pakuan.
Umar menambahkan bahwa keberhasilan metode perbaikan jalan sangat bergantung pada waktu pelaksanaan pengerjaan yang menyesuaikan dengan kondisi musim.
"Wajar selama dikerjakan pada musim timur atau kemarau dan bukan sebaliknya pada musim barat atau hujan," kata Umar Mansyur.