Pemerintah Provinsi DKI Jakarta didesak untuk tetap memprioritaskan program reduce, reuse, dan recycle (3R) di tengah rencana pembangunan dua fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) bersama Danantara pada Jumat (15/5/2026).
Langkah ini dinilai krusial mengingat volume sampah Jakarta mencapai 7.500 ton setiap hari, sementara kapasitas TPST Bantargebang diprediksi hanya mampu bertahan kurang dari tiga tahun lagi, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Pengamat tata kota Universitas Indonesia, Muh Azis Muslim, menegaskan bahwa kehadiran PLTSA tidak akan secara otomatis menuntaskan krisis sampah jika pengurangan dari sumbernya diabaikan.
"Meskipun sudah ada PLTSA nanti, sosialisasi terhadap prinsip 3R itu masih menjadi aspek penting, aspek utama di dalam pengolahan sampah di Jakarta," ujar Azis.
Azis menambahkan bahwa penerapan prinsip mengolah kembali sampah akan memberikan dampak yang jauh lebih efektif jika dilakukan sejak dari level hulu.
"Mengolah kembali itu menjadi salah satu prinsip yang saya rasa akan lebih mujarab diperlakukan atau diterapkan pada level hulunya," kata Azis.
Selain pembangunan infrastruktur, Azis menyoroti perlunya konsistensi dalam pemilahan sampah rumah tangga serta pemberian skema insentif dan disinsentif bagi warga yang disiplin dalam mengelola limbah mereka.
"Kegiatan pemilahan sampah itu sifatnya masih sporadis. Kesadaran masyarakat mulai terbangun, tetapi insentif dan disinsentif bagi warga yang disiplin memilah sampah juga perlu dipikirkan," ucap Azis.
Persoalan lain yang disoroti adalah tata kelola pengangkutan yang harus memastikan sampah yang telah dipilah oleh masyarakat tidak kembali tercampur saat dibawa ke tempat penampungan.
"Kalau dari rumah tangga sudah dipilah, tetapi di pengangkutan atau TPS dicampur lagi, tentu itu menjadi tidak efektif," kata Azis.