Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan langkah teknologi modifikasi cuaca guna mengantisipasi ancaman krisis air bersih selama musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino pada Selasa (12/5/2026). Strategi ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan pasokan air bagi warga ibu kota.
Langkah preventif tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan PAM Jaya, DPRD, hingga partisipasi aktif masyarakat. Dilansir dari Megapolitan, Pemprov DKI juga berencana mengoptimalkan fungsi badan air seperti waduk dan sungai untuk memperkuat ketahanan air.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Ruang, Nirwono Joga, menjelaskan bahwa modifikasi cuaca merupakan solusi teknis untuk memicu hujan di tengah kemarau. Penegasan ini disampaikan dalam Focus Group Discussion di Jakarta.
"Kalau saat musim hujan kemarin modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi curah hujan, maka pada musim kemarau bisa dilakukan untuk mendatangkan hujan," kata Nirwono usai Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Selasa (12/5/2026), dikutip dari Antara.
Nirwono menambahkan bahwa pengawasan terhadap penggunaan air tanah akan diperketat, baik di lingkungan industri maupun perumahan. Namun, ia menyadari adanya kendala implementasi pada wilayah yang belum terjangkau pipa air bersih.
"Kalau belum ada jaringan perpipaan lalu diminta memakai air PAM tentu tidak mudah," kata Nirwono.
Data layanan air bersih menunjukkan peningkatan infrastruktur yang signifikan oleh badan usaha milik daerah. PAM Jaya tercatat telah merealisasikan penambahan 1,18 juta sambungan baru bagi pelanggan di wilayah Jakarta.
Angka tersebut mencapai sekitar 81,11 persen dari target keseluruhan sebanyak 2,01 juta sambungan. Senior Manager Corporate dan Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza, memberikan penilaian terkait stabilitas distribusi air perpipaan saat ini.
"Sejauh ini kami belum melihat adanya potensi kekurangan suplai air perpipaan. Namun, kekeringan kemungkinan berdampak pada warga yang masih menggunakan air tanah," kata Gatra Vaganza, Senior Manager Corporate dan Customer Communication PAM Jaya.
Ketergantungan terhadap sumber air non-perpipaan masih menjadi tantangan besar di Jakarta. Koordinator Presidium Koalisi Air Tanah Jakarta (JATA), Laode Kamaludin, mengungkapkan bahwa 40 persen penduduk masih memakai air tanah yang memicu penurunan permukaan tanah.
Di sisi lain, kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi tetap dipertahankan meski periode El Nino diprediksi berlangsung hingga September 2026. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan arahan tegas pada Kamis (7/5/2026) mengenai kesiapan infrastruktur drainase.
"BMKG secara resmi sebenarnya sudah menyampaikan bahwa bulan April akhir sampai dengan September itu akan El Nino," ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Pramono mengingatkan jajarannya agar tidak lengah karena curah hujan tinggi masih terpantau mengguyur wilayah Jakarta baru-baru ini. Ia menginstruksikan percepatan pengerukan sungai untuk mencegah penyumbatan aliran air.
"Tetapi kenyataannya beberapa kali masih hujan, termasuk yang kemarin dengan curah hujan yang hampir 150 milimeter per hari yang menyebabkan banjir," kata Pramono.
Instruksi khusus diberikan kepada Bappeda dan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk meminimalkan dampak genangan. Pramono menyoroti masalah penumpukan sampah yang sering menjadi pemicu utama kegagalan fungsi saluran air.