Pemerintah Kelurahan Batu Ampar mengubah lahan bekas pembuangan sampah ilegal di Kramat Jati, Jakarta Timur, menjadi kawasan pertanian perkotaan bernama Saung Aset pada Jumat (15/5/2026). Area yang awalnya terbengkalai tersebut kini berfungsi sebagai ruang hijau produktif yang mencakup kebun sayur, kolam ikan, hingga fasilitas bermain anak.
Transformasi lahan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus menyediakan ruang edukasi bagi masyarakat di tengah padatnya permukiman Ibu Kota, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Pengerjaan lahan dilakukan secara bertahap oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dengan memanfaatkan material bekas.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Batu Ampar, Isra Nur Hikmah, menjelaskan bahwa konsep taman ini menggabungkan aspek rekreasi dan pembelajaran pertanian bagi generasi muda.
"Saya sebut taman produktif karena di samping tempat bermain anak-anak bisa belajar mengenal jenis tanaman seperti kangkung, terong, cabai. Kemarin kami juga baru menanam jagung untuk ketahanan pangan," ucap Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Pemanfaatan lahan tambahan di sekitar area urban farming dilakukan untuk memaksimalkan potensi lokasi yang semula tidak terurus menjadi tempat rekreasi sederhana.
"Karena lahannya luas dan pengerjaan dilakukan bertahap secara swadaya tanpa anggaran pemerintah. Saya sangat mengapresiasi teman-teman PPSU," ungkap Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Seluruh fasilitas pendukung di Saung Aset dibangun dengan prinsip daur ulang dari barang-barang yang ditemukan di lingkungan sekitar kelurahan.
"Saya bilang cari bahan yang ada di lingkungan sekitar dan manfaatkan. Bambu dan mainan anak-anak semuanya bekas. Mereka dapat dari sisa proyek pembangunan di lingkungan, lalu diminta setelah selesai," jelas Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Selain menjadi pusat produksi pangan, pengelola menerapkan sistem panen mandiri yang memungkinkan warga untuk merasakan pengalaman bertani secara langsung.
"Kami tanya ke petugas, 'Kangkung panen kapan?' Kalau jawabannya seminggu lagi, seminggu kemudian kami infokan ke masyarakat siapa yang mau beli," jelas Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Interaksi langsung saat memanen sayuran menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang ingin melepas penat dari suasana perkotaan.
"Sistemnya unik, warga mencabut sendiri. Kami pinjamkan topi caping, mereka bisa selfie. Rasanya seperti di desa. Iya, betul. Ada kepuasan tersendiri bagi yang memetik langsung dibanding membeli yang sudah dipetik," ungkap Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Sebelum menjadi ruang hijau, lokasi ini memiliki sejarah panjang sebagai tempat pembuangan sampah liar dan sempat mengalami sengketa kepemilikan.
“Zaman Gubernur Pak Ahok, di sebelah dibangun RPTRA. Sementara lokasi ini masih terbengkalai dan banyak yang mengaku-ngaku sebagai pemilik lahan. Akhirnya muncul pemancingan ilegal,” ujar Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Meski telah dipasang papan informasi aset pemerintah, upaya penertiban lahan pada tahun 2022 sempat menghadapi perlawanan dari pihak tertentu.
“Setelah kami mengecat tembok depan sampai selesai jam setengah lima sore, besok paginya muncul tulisan ‘Ini bukan milik Pemda’ disertai kata-kata tidak pantas. Padahal plangnya jelas milik Pemda,” kata Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Inisiatif pembersihan total dimulai pada akhir 2023 setelah adanya laporan warga terkait tumpukan sampah melalui aplikasi JAKI.
"Saya masuk sini akhir 2023. Kebetulan ada aduan pembuangan sampah lewat JAKI. Dari situ muncul ide membuat urban farming. Saya minta bantuan teman-teman PPSU untuk membuatnya," lanjut Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Proses pembersihan sampah hingga menjadi lahan siap tanam merupakan hasil kolaborasi lintas sektoral antara petugas PPSU dan berbagai satuan pelaksana teknis.
"Kondisi awal benar-benar nol karena yang ada hanya sampah, bukan tanah. Tanah didapat dari kolaborasi dengan Satpel Pertamanan dan SDA yang membantu meratakan. Bina Marga juga ikut berkolaborasi. Akhirnya terbentuk urban farming ini," ungkap Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.
Pendanaan operasional Saung Aset saat ini bergantung pada perputaran hasil penjualan panen untuk memenuhi kebutuhan bibit dan pupuk secara mandiri.
"Kita dapat bantuan dari Sudin buat tanaman dan pupuk, tapi kan enggak banyak jumlahnya makanya kita perlu beli, ya uangnya dari situ, karena kita enggak ada anggaran khusus," tutur Isra, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar.