Seorang pemuda bernama Dwi Angga Mukti mentransformasi lahan bekas pembuangan sampah seluas 1,5 hektare di Rawa Malang, Semper Timur, Jakarta Utara, menjadi kawasan pertanian perkotaan produktif sejak 2024. Inisiatif bertajuk Bangun Karya Mandiri ini bertujuan untuk menghijaukan lingkungan sekaligus menghapus stigma negatif wilayah tersebut pada Jumat (8/5/2026).
Dilansir dari Megapolitan, lahan yang dulunya terbengkalai pascapembangunan waduk kini ditanami berbagai komoditas seperti kangkung, sawi, kemangi, hingga cabai. Angga yang kini berusia 26 tahun merintis usaha tersebut berbekal pengalamannya di Karang Taruna dan komunitas Orang Indonesia (OI) yang fokus pada kegiatan sosial serta lingkungan.
Motivasi utama Angga melakukan penghijauan ini berakar dari keinginan untuk memperbaiki citra tempat tinggalnya yang kerap dicap sebagai kawasan kumuh dan lokasi tawuran. Ia berharap kehadiran kebun ini dapat mengalihkan energi anak-anak muda di sekitarnya ke arah kegiatan yang lebih bermanfaat secara ekonomi dan sosial.
“Awalnya cuma pengen penghijauan,” kata Angga.
Ia menceritakan bahwa inspirasi mengelola lahan muncul saat melihat area sisa pembangunan waduk dipenuhi sampah liar. Angga kemudian bertekad mengubah wajah wilayahnya agar tidak lagi dipandang rendah oleh masyarakat luar karena identik dengan lokalisasi.
“Daripada di luar terus, mendingan di wilayah kita bagusin,” tuturnya.
Penerimaan masyarakat pada awalnya tidak selalu positif karena Angga sempat mengalami perundungan dari warga setempat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berhasil merangkul sekitar 15 remaja usia SMP untuk rutin terlibat dalam pengelolaan kebun, mulai dari sekadar berkumpul hingga membantu penyiraman.
“Kalau kita main di luar, Rawa Malang kenalnya paling salah satunya tempat lokalisasi terus terkenalnya kampung kumuh,” kata Angga.
Persoalan stigma negatif ini menjadi beban moral bagi para pemuda setempat saat berinteraksi di luar lingkungan mereka. Angga merasakan sendiri bagaimana identitas sebagai warga Rawa Malang sering kali memicu prasangka buruk dari pihak lain.
"Iya, kita ke mana-mana dicapnya negatif aja kan. Rawa Malang, kalau ditanya anak mana, anak Rawa Malang. Sangkanya kayak gitu aja," sambungnya.
Meski kini mampu meraup penghasilan hingga Rp 2 juta per bulan dari hasil panen, perjalanan Angga penuh rintangan termasuk cibiran tetangga. Ia tetap konsisten menanam meski sempat dianggap sedang membuang waktu tanpa hasil yang jelas.
“Ngapain nanam-nanam lu, kayak orang gabut. Enggak ada duitnya, kurang kerjaan lu,” kata Angga menirukan sindiran yang pernah diterimanya.
Hambatan fisik juga pernah dialami ketika fasilitas greenhouse bantuan miliknya hancur akibat dampak tawuran antar kelompok di wilayah tersebut. Meskipun sempat berhenti sejenak karena faktor trauma lingkungan, ia memilih untuk bangkit dan kembali mengolah lahan pertaniannya.
“Namanya petani gini kan anak-anak muda jarang ada yang senang,” ungkap Angga.
Melalui pendekatan persuasif, ia mencoba menarik minat generasi muda agar mau mencintai dunia tani. Angga menerapkan strategi mengajak mereka bersantai di saung terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka tertarik untuk terjun langsung ke tanah.
“Awalnya mah pasti enggak mau dia. Cuma kita ajak sering nongkrong dulu lama-lama dia senang sendiri,” ujar Angga.
Di sisi lain, Angga sempat menyimpan rasa kecewa karena gagal mengambil peluang magang pertanian ke Jepang pada 2024 akibat keterbatasan biaya pelatihan. Padahal, kesempatan itu datang sebagai apresiasi atas dedikasinya dalam mengembangkan urban farming di Jakarta Utara.
“Kaget juga, kan enggak ada harapan,” ungkap Angga.
Walaupun impian belajar ke luar negeri tertunda, semangatnya untuk memperdalam ilmu pertanian tidak padam. Angga berkomitmen terus mengelola kebun Rawa Malang demi memberikan ruang positif bagi masa depan anak-anak di lingkungannya.
“Mau lah. Ya kan kita balik dari sono (belajar di luar negeri) bisa bawa ilmu kan,” ujar Angga.