Pencari Kerja Bogor Asah Keahlian di BLK demi Sasar Pasar Luar Negeri

Pencari Kerja Bogor Asah Keahlian di BLK demi Sasar Pasar Luar Negeri

Seorang warga bernama Muhammad Sayyid Abu Hanifah mengasah keahlian perhotelan di Balai Latihan Kerja Kota Bogor pada Senin (18/5/2026) demi persiapan bekerja di Kuwait. Langkah ini diambil karena sistem ketenagakerjaan di luar negeri dinilai lebih mengutamakan kompetensi dibandingkan batasan usia, seperti dilansir dari Megapolitan.

Pria berusia 28 tahun tersebut memilih beralih haluan dari latar belakang pendidikan pemasarannya untuk mempelajari bidang housekeeping sejak April 2026. Selain faktor usia, motivasi utama kepindahan ini didorong oleh standar upah di luar negeri yang jauh lebih tinggi daripada di dalam negeri.

"Saya mau ke Kuwait, karena kan sekarang kalau misalkan di Indonesia kan, hanya umur yang diutamain, tapi skill enggak diutamain. Kan kita bisa supply ke luar negeri ya. Kalau di luar negeri kan tidak terpatok sama umur," kata Sayyid.

Dia menilai peluang karier di masa depan akan jauh lebih menjanjikan melalui jalur kompetensi keahlian ini. Kebutuhan akan pengakuan formal keahlian menjadi fokus utamanya selama menjalani program pelatihan tersebut.

"Mau umur berapa puluh tahun juga, kalau kita punya skill, punya basic pasti diterima. Terlebih karena gajinya itu lebih besar. Peluang-peluang kedepannya itu lebih bagus," sambung dia.

Sayyid mendapatkan informasi mengenai program di Balai Latihan Kerja (BLK) ini dari salah seorang anggota DPRD Kota Bogor. Bagi pengusaha percetakan di Sukasari ini, sertifikat kompetensi dari lembaga resmi jauh lebih krusial dibandingkan ijazah formal untuk saat ini.

"Enggak sejalan banget. Tapi intinya kita mau nyari ilmu untuk nambah-nambah," kata dia.

Selama pelatihan, dia mempelajari berbagai kompetensi teknis mulai dari penataan kasur hingga sanitasi toilet. Proses adaptasi materi diakuinya berjalan lancar berkat kemauan keras untuk belajar.

"Saat ini, itu ijazah itu tidak penting. Yang lebih penting itu, sertifikat itu. Karena keahlian kita, pengalaman kita yang dicari. Percumah orang sekolah tinggi-tinggi tapi kita tidak punya keahlian. Untuk saat ini," jelasnya.

Dalam materi sanitasi, peserta diwajibkan memahami penggunaan bahan kimia khusus beserta alat pelindung diri yang standar. Materi praktis tersebut langsung dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumahnya.

"Gampang sih ya. Kalau kitanya mau berusaha untuk belajar lah, enggak ada yang susah," ujar dia.

Kendala terbesar yang dihadapi selama kurikulum 12 hari pertama adalah materi seni melipat handuk atau towel art. Teknik membentuk handuk menjadi replika binatang seperti kepiting dan angsa dirasakannya sangat rumit.

"Kalau misalkan, harus pakai, misalkan toilet itu kan harus pakai chemical terus pakai sarung tangan sama masker," jelas dia.

Keahlian perhotelan ini juga dipersiapkan Sayyid sebagai rencana cadangan guna mengantisipasi fluktuasi bisnis percetakan pribadinya. Ilmu yang didapat rencananya akan ditularkan pula kepada para karyawannya.

"Itu sangat susah. Kalau awal-awal itu sangat susah. Namanya itu towel art. Kayak yang seperti bikin kepiting, bikin soang gitu. Variannya banyak banget," ucap dia.

Setelah menyelesaikan kelas teori dan praktik di BLK, seluruh peserta program housekeeping dijadwalkan mengikuti program magang wajib. Kegiatan magang ini akan berlangsung di sejumlah hotel di wilayah Kota Bogor selama enam bulan.

"Karena kan kita itu, usaha itu kan tidak selalu lurus terus. Pasti kan ada belok-beloknya sedikit lah. Ada bangkrutnya, ada sepinya," kata dia.

Pengalaman magang serta sertifikasi kompetensi tersebut nantinya akan dijadikan modal utama untuk mendaftar ke lembaga penyalur kerja internasional.

"Karena kan kalau misalkan kita punya ilmu basic yang kayak hotel ini, kan kita bisa masuk ke hotel, emang mau kerja di hotel," lanjutnya.

Pihak otoritas BLK sendiri telah membuka akses bagi para lulusan untuk tersalurkan secara resmi ke pasar global. Dinas Tenaga Kerja Kota Bogor telah membangun jejaring dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) resmi yang berbasis Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).

"Akhirnya setelah pelatihan dari sini kita tawarkan untuk ke LPK yang memang berbasis CPMI ya. Calon Pekerja Migran Indonesia," jelas Eka Permana, Kepala UPTD BLK Kota Bogor.

Peserta yang telah menguasai keahlian teknis tinggal memperdalam kemampuan bahasa asing, seperti bahasa Inggris atau bahasa Jepang, sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.

"Jadi mereka keahliannya sudah punya nih tinggal bahasanya saja. Apakah bahasa Inggris atau bahasa Jepang. Setelah itu mereka bisa bekerja di luar negeri," sambungnya.

Saat ini sudah ada dua LPK yang menjalin kerja sama operasional dengan pihak dinas untuk penempatan di beberapa negara. Kerja sama ini mencakup penyaluran kerja ke Jepang, Kuwait, Turki, hingga Montenegro.

"Nah, mereka itu setelah pelatihan 3 bulan atau 6 bulan itu akan disalurkan melalui P3MI. Perusahaan penyalur gitu ya ke sana," jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi