Fasilitas shelter darurat di jalur pendakian Gunung Merbabu via Gancik, Boyolali, Jawa Tengah, mengalami kerusakan pada bagian pintu setelah dijebol paksa oleh pendaki. Insiden tersebut menjadi perhatian publik setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial pada Rabu, 6 Juli 2026.
Dilansir dari Detik Travel, kerusakan fasilitas di pos 2 pendakian tersebut diduga terjadi pada Senin malam ketika cuaca ekstrem melanda kawasan puncak. Pengelola jalur pendakian menyebut tindakan tersebut dilakukan pendaki yang membutuhkan tempat berlindung dari terjangan badai di tengah kondisi darurat.
Pengunggah video melalui akun @wahyu.glece memberikan peringatan keras kepada pihak yang terlibat dalam perusakan tersebut. Ia juga menyoroti perilaku tidak bertanggung jawab terkait kebersihan di area shelter darurat tersebut.
"Yang merasa merusak dan membuang sampah di shelter emergency Merbabu via Gancik tolong segera konfirmasi atau kami kejar dan cari sampai rumah kalian," tulis Wahyu Glece.
Pihak pengunggah menjelaskan bahwa awalnya pintu bangunan tersebut tidak pernah dikunci agar dapat digunakan kapan saja oleh pendaki yang membutuhkan pertolongan. Namun, kebijakan penguncian dilakukan karena area tersebut kerap disalahgunakan menjadi tempat pembuangan sampah.
"Saya jelaskan ya teman-teman. Itu dari awal di kasih shelter emergency nggak digembok dan untuk emergency pendaki. Namun, sama pendaki malah dibuat tempat sampah. Setelah di gembok pintunya malah dirusak," kata Wahyu Glece.
Pengelola Basecamp Gancik, Gusdur Priyanto, memberikan klarifikasi terkait kronologi penjebolan pintu tersebut. Ia memaklumi tindakan pendaki yang mencari perlindungan demi keselamatan nyawa di tengah cuaca buruk, meskipun cara yang ditempuh merusak fasilitas.
"Kalau kronologinya itu kemungkinan besar itu di atas badai, cari tempat perlindungan, tapi dengan cara, ya saya tidak menyalahkan yang membobol (pintu shelter emergency Merbabu). Tapi ya memang itu kalau memang sudah urgen ya mau gimana lagi," kata Priyanto.
Pemeriksaan lokasi menunjukkan adanya tanda-tanda penggunaan ruangan di dalam shelter sebagai tempat beristirahat sementara. Priyanto menekankan bahwa fungsi utama shelter adalah sebagai tempat berlindung, namun sangat disayangkan harus diwarnai dengan tindakan pengerusakan.
"Jadi kan kemungkinan di atas badai, lha gunanya shelter kan seperti itu (tempat berlindung). Tapi dengan cara mereka yang salah. Tapi kita juga maklum karena nyawa yang paling utama," kata Priyanto.
Pihak pengelola mengakui adanya dilema dalam melakukan perawatan fasilitas tersebut karena perilaku oknum pendaki sebelumnya. Setelah kejadian ini, pengelola berencana untuk membuka kembali akses shelter agar tidak ada lagi perusakan serupa di masa mendatang.
"Dulu itu sempat kita open, ini mau di-open juga. Tapi dibuat tempat sampah, dulu. Jadi kita itu dilema, dikunci salah, enggak dikunci jadi tempat sampah," ucap Priyanto.
Meskipun menyesalkan adanya tumpukan sampah di dalam bangunan darurat, pihak pengelola tetap mengedepankan aspek keselamatan para pendaki Gunung Merbabu. Renovasi pintu yang rusak akan segera dilakukan agar fasilitas tersebut berfungsi normal kembali.
"Tapi kita juga menyadari kok (atas kejadian itu)," kata Priyanto.