Prudential Indonesia berhasil membukukan total pendapatan premi sebesar Rp 21,1 triliun pada tahun 2025, mengalami kenaikan dari perolehan tahun sebelumnya yang bernilai Rp 20,8 triliun. Pencapaian ini dilansir dari Keuangan dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Rabu (3/6/2026).
Pertumbuhan kinerja keuangan ini ditopang oleh pergeseran dalam komposisi portofolio premi perusahaan. Kontribusi dari produk tradisional mengalami peningkatan menjadi 28 persen pada 2025 dibanding tahun 2024 yang sebesar 25 persen, sementara porsi Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) menyusut dari 75 persen menjadi 72 persen.
"Untuk produk tradisional ada peningkatan 16% secara tahunan. Kalau produk unitlink, saya rasa stabil," ujar Adit Trivedi, Chief Financial Officer Prudential Indonesia.
Perubahan struktur portofolio tersebut dipicu oleh dinamika preferensi nasabah serta bervariasinya opsi produk tradisional yang ditawarkan. Belakangan ini, perusahaan memang lebih gencar meluncurkan varian produk tradisional untuk kategori perlindungan maupun tabungan.
"Untuk produk tradisional ada peningkatan 16% secara tahunan. Kalau produk unitlink, saya rasa stabil," ujar Adit Trivedi, Chief Financial Officer Prudential Indonesia.
Meskipun porsi PAYDI menurun menjadi 72 persen, jenis produk ini tetap menjadi kontributor paling dominan dalam total pendapatan premi perusahaan. Di sisi lain, manajemen tetap optimistis melihat prospek ekspansi bisnis untuk kedua kategori produk tersebut pada tahun berjalan.
"Untuk produk tradisional ada peningkatan 16% secara tahunan. Kalau produk unitlink, saya rasa stabil," ujar Adit Trivedi, Chief Financial Officer Prudential Indonesia.
Kedua model produk asuransi tersebut dirancang untuk membidik segmen pasar yang berlainan. Oleh karena itu, akselerasi pertumbuhan ke depan bakal sangat bertumpu pada corak kebutuhan beserta kecenderungan dari kelompok masyarakat selaku konsumen.
Dari indikator kesehatan keuangan, perusahaan mengantongi tingkat solvabilitas atau risk based capital (RBC) di level 466 persen sepanjang 2025. Rasio kecukupan modal tersebut berada jauh di atas ambang batas minimum yang diwajibkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu sebesar 120 persen.
Selain itu, total aset perusahaan melonjak 11 persen secara tahunan menjadi Rp 64,3 triliun dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp 58 triliun. Adapun total aset investasi, yang mencakup dana kelolaan PAYDI, menyentuh angka Rp 54,5 triliun atau tumbuh 6 persen year-on-year. Langkah penetrasi pasar ke depan akan diprioritaskan melalui penguatan jalur keagenan sebagai tulang punggung bisnis, sekaligus membidik perluasan jangkauan ke kota-kota lapis kedua demi mengejar potensi penetrasi asuransi nasional yang masih rendah.