Petugas Dinginkan Gudang Miami Kalideres Usai Kebakaran Besar

Petugas Dinginkan Gudang Miami Kalideres Usai Kebakaran Besar

Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat masih melakukan proses pendinginan di Kompleks Pergudangan Miami, Tegal Alur, Kalideres, pada Selasa (12/5/2026). Upaya ini dilakukan guna memastikan titik api benar-benar padam setelah kebakaran hebat melanda area tersebut sejak Senin (11/5/2026) malam.

Luas area yang terbakar mencapai sekitar 1.000 meter persegi dengan kondisi bangunan yang hampir seluruhnya hangus. Dilansir dari Megapolitan, sebanyak 22 unit mobil pemadam kebakaran dan 110 personel dikerahkan ke lokasi untuk menangani sisa-sisa material yang masih menyimpan bara api.

Kasie Ops Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat, Syaiful Kahfi menjelaskan bahwa meskipun api utama sudah terkendali sejak dini hari, pemantauan intensif tetap diperlukan. Tumpukan barang di dalam gudang disinyalir menjadi penghambat proses pemadaman total secara cepat.

“Pendinginannya itu kurang lebih jam 01.00 WIB. Jadi api-api itu sudah enggak ke mana-mana lagi,” ujar Syaiful, Kasie Ops Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat.

Syaiful menambahkan bahwa petugas harus membongkar tumpukan material untuk menjangkau sumber panas yang tersembunyi di bawah reruntuhan. Tanpa penguraian barang, potensi api untuk menyala kembali tetap ada di area pergudangan tersebut.

“Kalau kita tumpuk tembak di atas itu, di bawah belum tentu enggak ada api. Jadi kita harus dinginin. Kalau mau benar-benar padam, barang-barangnya harus diurai dan diangkat dulu,” jelas Syaiful.

Keberadaan ribuan tabung gas berukuran kecil di dalam gudang menjadi pemicu serangkaian ledakan saat api pertama kali berkobar. Namun, pada proses pendinginan pagi ini, suara ledakan dilaporkan sudah tidak terdengar lagi seiring habisnya material pemicu.

"Kalau sekarang sih sudah enggak (ledakan), sudah habis tabungnya, enggak kayak semalam," kata Syaiful.

Dalam operasi ini, tim di lapangan menghadapi hambatan teknis berupa jarak sumber air yang cukup jauh serta kualitas air kali yang buruk. Hal ini memaksa petugas melakukan penyaringan manual agar pompa pemadam tidak mengalami kerusakan saat digunakan.

“Kendalanya memang sumber air agak jauh, jadi kita harus merangkai mobil dulu. Air di kali juga kotor, jadi harus dibersihkan dulu,” kata Syaiful.

Selain kendala air, risiko asap beracun dari material kimia dan plastik yang terbakar membuat petugas harus berhati-hati. Guna menjaga keselamatan personel, pihak pemadam kebakaran memanfaatkan teknologi pemantauan otomatis selama proses penjinakan sisa api.

“Kita juga gunakan alat robotik, karena asapnya beracun dan ada letupan-letupan, jadi bisa dikendalikan dari jarak jauh,” tutur Syaiful.

Artikel terkait

Rekomendasi